Thursday, 19 December 2013

Berdialog dengan Ego

Hujan masih belum usai diluar sana, padahal sudah sedari maghrib tadi mereka datang, rupanya belum juga tuntas rindunya pada tanah kering. Sudah pukul 8 malam ini, wangi tanah basah masih ku nanti.

"hey, mau berapa lama kau tatap layar handphone mu?", tegur sang ego padaku yang sedari tadi sedang memandangi layar handphone. Aku tak bergeming, layar handphone ini lebih menarik untuk ku perhatikan. "Bodoh..", katanya, kesal rupanya ia ku acuhkan. aku menoleh ke arahnya sebentar. Tak ku jawab perkataanya. aku masih sibuk dengan handphone di genggaman ku. "ini sudah ke 3 kalinya, kenapa kau masih saja mencoba percaya?", aku mulai mengalihkan pandangan dari layar handphone ke arahnya setelah mendengar pertanyaannya. Sudah ke 3 kalinya. kalimat itu terdengar tidak biasa untuk telingaku.

fikirku melayang pada jaman kebodohan ku dulu, ketika masih menikmati perasaan semu, dan masih tentang orang yang sama.

"kenapa kau datang lagi?", Hujan diluar mulai reda, aku membatin bersama harum wangi tanah basah. "Sudah 3 kali, dan rasanya masih sama. menyakitkan, tapi kenapa?", aku menunduk memejamkan mata, "aku tak tahu harus apa", aku berbisik hampir tak terdengar.

"Kau bilang cinta itu tidak menyakitkan, tapi kenapa ia bisa mengeluarkan air dari mata mu?", sahut sang ego yang ternyata sedari tadi memperhatikanku. "begitulah bodohnya dirimu. coba lihat hatimu, luka itu masih menganga! dan ini bukan pertama kalinya!". dia mulai membentak.

 "Aku tahu! aku tahu! tapi aku hanya seorang wanita biasa, aku mudah luluh, kau harus tahu itu", aku terisak.
 "Aku pun tidak ingin lagi, tapi aku bingung", pipiku sudah basah ternyata.

"Hey, ingatlah ini bukan pertama kalinya, dia bisa lakukan lagi sesukanya jika kau masih tetap percaya. Ayolah ikuti saranku kali ini, jangan lagi", si Ego membujuk.

"Tapi dia bilang akan berubah, dia sudah tidak seperti dulu", aku mencoba meyangkal.
"Hahaha.. lalu kau percaya?", aku masih menunduk, "Belum sepenuhnya", kataku.

si Ego menatap wajahku sangat dekat, "ikuti aku, sudahlah. siapa peduli pada masa lalu? dia berubah? lucu sekali kamu, perubahan itu penialian orang lain bukan penilaian pribadi. jangan terlalu lemah hanya karena kenangan, ingat baik-baik kalimatku, sekali dia rusak kepercayaanmu akan mudah pula dia lakukannya lagi, terbukti kan? ini sudah ke tiga kalinya", dia menatapku lekat sambil mengacungkan jarinya mengisyaratkan angka 3 kehadapanku.

Aku benar-benar kebingungan, aku kembali memandangi layar handphoneku, membaca isi pesan didalam sana.

"Aku benar-benar sangat menyesel atas yang ku lakukan di masa lalu , izinkaku mengobati lukamu, luka yang ku buat. Aku memang benar bodoh sudah begitu saja melepasmu, maka kini aku kembali untuk tetap disampingmu, tak akan pernah ku biarkan kau tersakiti. berikan aku kesempatan lagi. Izinkan aku menjadi imam mu, jika kau beri lagi kesempatan itu, akan segera ku datangi wali mu."

Aku kembali terisak.

Kenapa harus sebingung ini? bukan kah terkadang aku mengharap dia kembali untuk mengobati luka ku? karena memang hanya dia yang miliki obat yang ku butuh, tapi.. kenapa harus sebimbang ini? apa karena ada seseorang yang baru? untuk apa pula aku membimbangkannya? toh aku hanya figuran numpang lewat yang memandangi sempurnanya, dia tidak memandang ke arah ku sama sekali, kini ada yang bersedia menerima ku dengan sempurna tapi kenapa aku bimbang sekali dalam memilih? karena masa lalu kah? Aku harus apa? haruskah ku ikuti ego ku untuk tak lagi mempercayainya? tapi.. aku bukan Tuhan yang berhak menghakimi kesalahannya. aku hanya manusia, dan aku hanya wanita mudah luluh hatinya.

Aku mencoba bertanya pada Ego, "hey Ego.. bukankah bagi seorang laki-laki berkomitmen serius itu bukan hal yang sembarangan?".

"Iya, dan mampu menyakiti 3 hati sekaligus juga bukan hal yang sembarangan". dia menjawab dengan angkuh, mencoba mengingatkanku. Aku tak bisa lagi menjawab. Aku tenggelam dalam kebingungan.

"Maaf, aku belum bisa memutuskan".

Pesan terkirim.

*created by: @ninitatabon

Sudah 35.040 Jam

Siapa yang sangka bahwa kita akan dipertemukan. siapa yang sangka bahwa kita akan menjadi seperti ini. berawal sari sebuah gelang tangan yang entah kamu masih mengingatnya atau tidak, yang paling mutlak adalah berawal dari perasaan absurd ala anak SMA, geli jika mengingatnya, absurd sekali kita saat itu, dasar anak ingusan yang berlagak dewasa, terkekeh saja aku mengingatnya.

Yaa lagi dan lagi.. siapa yang sangka dari sekian banyak wanita, kenapa kamu memilihku? dan siapa pula yang sangka aku memutuskan menjawab "iya, aku mau". 35.040 jam yang lalu, oh sudah selama itu yah keputusanku, tapi tunggu.. coba kita potong dengan waktu pertengkaran kita, waktu bermain kita, waktu belajar kita, waktu usil kita, dan... sepertinya paling banyak potongan ada pada waktu kamu meninggalkanku. ups.. tak usah lagi kah untuk dibahas?

well yeah.. kita tidak menghabiskan waktu 35.040 jam utuh bersama, karena aku tidak ingin terus dalam keadaan jahiliyah, coretan ini hanya sebagai pengingat bahwa 35.040 jam yang lalu adalah waktu dimana kamu mengutarakan perasaanmu, waktu dimana kita menjadi sebuah makna.

Sebenarnya, pada jam saat kamu pergi aku sudah tidak lagi peduli pada detik pertama kamu memproklamirkan diri menjadikan ku makna untukmu, aku sudah tidak lagi peduli. Karena ku fikir yang pergi ya biarkan saja pergi, aku tak peduli dan jam antara kita sudah ku biarkan mati, ibaratkan saja dengan kehabisan baterai dan tak berniat ku ganti baterainya lagi.

Tapi, lagi lagi... siapa yang sangka bahwa kamu akan kembali? kadang aku tertawa mengingatnya, lucu sekali. ini kah yang kau sebut takdir ya Rabb? kamu sering sekali mondar mandir pulang pergi dihidupku, menyala matikan jam antara kita. sering sekali, hingga muak aku. dan kini.. akhirnya kamu menyalakannya lagi. lucu bukan?

bukan maksud memuji diri, tapi kadang aku berfikir kurang baik apa aku mebiarkanmu dan rela-rela saja melihatmu menyala matikan jam antara kita yang padahal kamu pernah menghabiskan jam dengan hati yang lain. Entah terlalu baik atau terlalu bodohkah aku masih santai saja meladeni mu.

Namun, harus kamu tahu. bahwa 35.040 jam yang lalu biarkan saja berlalu, aku sudah tak ingin peduli pada kita yang dulu, pada kamu yang meninggalkanku dan lain sebagainya yang sudah berlalu. Aku tidak ingin lagi peduli, seperti kamu yang berusaha untuk mengembalikan kepercayaanku lagi, sama persis seperti itu perjuanganku melupakan jam dimana kamu meninggalkanku untuk hati baru itu.

Sudah, sakit memang mengungkit masa lalu. maka, mari kita lupakan. Sekarang yang aku tahu kamu kembali dan kamu berubah, yaa mudah-mudahan ini benar, mudah-mudahan kamu dan semua komitmen serius yang kamu utarakan itu benar dan kamu tak lagi mengecawakanku. Semoga.

Dan sekarang mari kita gunakan jam-jam di antara kita untuk memperbaiki diri, hingga Allah memutuskan takdir-Nya, apakah nama mu memang tertulis di Lauhul Mahfudzku? atau kah aku bukan tulang rusuk kiri mu?

Mari biarkan Sang Pemilik Waktu yang tentukannya, apakah 35.040 jam ini akan berlanjut pada ikatan yang di Ridhoi-Nya atau akan berhenti di 35.040 jam saja.

-tentang 19.Desember. tanggal yang sama saat 35.040 jam yang lalu -


#Nb: maaf, aku belum mampu memutuskan, semoga Allah meridhoi kesabaranmu.

*created by: @ninitatabon

Wednesday, 18 December 2013

Sedang Absurd dengan sang Waktu

Ah.. biasanya juga begitu. biasa absurd.

"Gimana? udah nemu jawabannya?, aku memalingkan muka, malas berdialog dengan sang waktu, karena dia selalu menanyakan hal yang sama, menanyakan hal yang belum juga mampu ku jawab.
"Dasar labil..", dia menyindir ku. "Stop bicara atau akan ku acuhkan kau sama sekali?!", jawabku kesal.
"coba saja..", dia menantang, aku terdiam. iya, karena aku tahu bahwa aku tak akan mampu acuhkannya. bagaimana bisa? Lah wong cuma dia teman hening ku.

Aku menyandarkan punggung pada dinding.
"Lelah yah?", tanya sang waktu padaku, aku mengangguk. "sudahi saja, toh kamu tidak mendapat apa-apa sejauh ini selain rindu dan rasa GR mu". aku menunduk mendengar perkataan sang waktu.

Menyerah?
padahal belum apa-apa.

"Jangan pura-pura kuat, aku tahu kamu", ucap sang waktu dengan nyinyir.
"hey waktu, katamu.. Kau tahu aku? berarti kamu tahu bahwa aku belum menemukan alasan untuk berhenti? lalu kenapa kamu begitu cerewet memintaku menyerah?", aku kesal, tapi menahan untuk tak membentak.

"Karena aku tahu bahwa kamu melakukan hal yang sia-sia, karena aku tak ingin kau membuangku dengan percuma, karena kamu bukan tak menemukan alasan untuk berhenti tapi malas untuk mencari, dan...". sang waktu berhenti sejenak.

"apa? kenapa?" aku penasaran.

"Karena dia terlalu sempurna untukmu".

 Aku menunduk mendengar jawabannya, bukan karena aku takut, tapi karena dia benar.
dia benar.. aku harus menyerah.

*created by: @ninitatabon

#FF Balkon Sekolah

"Andriiiiiiii!!", teriak seorang perempuan pada salah satu laki-laki yang sedang asik bermain basket dengan kawan-kawannya. teriakan itu mengejutkan aku yang sedari tadi memandangi si pemilik nama, sontak aku langsung menoleh ke arah pusat suara. "Dina!!", teriak ku pada perempuan yang ternyata ada disampingku tapi aku tidak menyadarinya. dia sahabatku. aku langsung menarik tangan perempuan bertubuh bongsor ini beringsut bersembunyi agar yang namanya baru saja dipanggil tak melihat ke arah kami berdua. hampir copot jantungku.

"Gila kamu din!", Dina terkekeh melihat ku kalang kabut,
"Hahahaha.. lagian mau sampai kapan sih Ta?", Dina menggodaku.

 wajah ku merah malu, antara malu dan takut tepatnya. aku tak bisa menjawab pertanyaan Dina. Dina tersenyum, "Aku rasa balkon ini juga bosen lihat tingkah kamu Ta, curi-curi pandang ke Andri yang lagi maen basket dibawah sana, padahal Andri ngga lihat kamu sama sekali kan?"

Aku menunduk sebentar, "Iya, kamu bener. tapi ini cara ku mencintainya, tanpa harus memanggil atau mengalihkan perhatiannya padaku, cukup ku kagumi nya dari balkon ini", aku tersenyum. "Tapi dari jaman MOS sampe kita udah mau lulus gini Ta? kamu ngga capek?".

"Ngga ada kata lelah untuk cinta, Din", aku mencolek hidung sahabat karibku dari jaman SMP ini.
Dina terlihat kesal.

"Tapi, makasih yah, kamu memberi ku kesempatan melihat mata indahnya tadi". Aku senyum-senyum sendiri.
"Ampun deh!! udah ayo ke kantin nanti jam istirahat keburu habis cuma buat Andri mu itu!". Dina memanyunkan bibirnya. Aku tertawa.

tema: cheribelle - diam diam suka.
created by: @ninitatabon
di ikutkan dalam #FF2in1 nulisbuku.com

Saturday, 14 December 2013

Untuk yang ku panggil Bapak


Ada seorang laki-laki yang sering ku perhatikan secara diam-diam, yang hingga saat ini masih sering kulakukan. Laki-laki itu sering duduk menunduk. Ketika pagi, sesudah mandi, ketika siang ada waktu luang, ketika menonton TV.. ah sering sekali dia duduk menunduk.

Apa yang kau fikir? tidak, dia tidak sedang bermuram merenungi hidup, dia hanya mengikuti perintah tubuhnya yang memberi sinyal kelelahan, sering juga ku dengar dia mendengkur, dia duduk menunduk untuk tidur. Lelah sekali rupanya dia, hingga tak peduli sedang apapun dia, jika ada waktu luang dia akan tetridur begitu saja. Padahal, dia sama sekali tak bermaksud bermalas-malasan, dia hanya kelelahan, bagaimana tidak? bisa kau bayangkan? ketika orang kebanyakan bekerja saat matahari terang, dia bekerja saat matahari meredup, saat matahari tenggelam di ufuk barat sana, laki-laki ini baru memulai mengais rezekinya. Dia, si pedagang pasar malam harian, penjual baju anak-anak, seorang laki-laki paruh baya yang ku panggil Bapak.

Tubuhnya yang gemuk, rambutnya yang sudah mulai memutih, kulitnya yang hitam diterpa sengatan matahari yang menemani ikhtiarnya, dan usianya yang semakin menua, hampir setengah abad kira-kira, laki-laki itu tidak seperti laki-laki pada umumnya, tubuh gemuknya membatasi gerak tubuhnya, tapi tidak dengan hatinya, dia miliki hati yang tak bisa ku deskripsikan sebesar apa kuatnya.

Aku mengutip kalimat dari sebuah novel yang pernah ku baca, katanya "enak menjadi orang berbadan besar, karena ukuran hatinya lebih besar". Sebuah kalimat dari novel karya Donny Dhirgantoro. Aku tidak peduli kalaupun kalimat itu hanya fiksi, yang ku tahu kalimat itu terbukti pada diri seorang Bapak yang aku cinta, bahwa dia bertubuh besar dan hatinya seluas samudera.

Bapak adalah laki-laki yang rela kehujanan hanya demi  agar aku bisa makan, yang rela berjuang dibawah terik kepanasan demi agar aku dapat hidup layak seperti teman kebanyakan, dan yang rela tidur larut sebelum dia melihat ku tertidur nyaman dalam selimut.

Coretan ini ku buat untuk laki-laki pertama yang ku cinta di dunia, yang ajarkan ku caranya melakukan apapun tanpa merepotkan siapapun diluar sana, yang ajarkan ku mandiri semampu yang ku bisa, seorang laki-laki yang darinya aku belajar bahwa kesedihan tak harus ditampakkan pada wajah, laki-laki yang ajarkan aku mengkamuflase rasa, laki-laki yang memperkenalkanku pada rasa berkorban sekuat tenaga, seorang laki-laki yang ku panggil Bapak.

Bagaimanapun hidup melemahkanku, Bapak tidak mengajarkanku untuk mengeluh, dia selalu katakan "kerjakan dulu, jika memang benar-benar tidak bisa bolehlah kamu meminta pertolongan pada siapapun yang bisa membantu, asal tidak mudah mengeluh". Begitulah dia, seorang laki-laki yang mengajarkanku untuk mandiri dan tidak mudah putus asa, seperti saat baru pertama kali ku kenakan sepatu bertali, bapak memintaku mengikatnya sendiri, ku katakan aku tak bisa, bapak bilang aku harus lakukan pelan-pelan dan beraturan, hingga akhirnya ternyata aku bisa mengenakan keduanya dengan benar, Bapak hanya katakan "bisakan jika kamu lakukan perlahan?". Bapak mengajariku bahwa hidup tak perlu terburu-buru, dan sebelum aku memulai sesuatu aku tidak berhak mengeluh. itu kata Bapak ku. seorang laki-laki yang rela menukar kebahagiaannya sendiri demi aku yang hanya bisa merepotkan saja.

Aku si anak yang selalu merepotkan, bagaimana tidak? hingga sebesar ini aku masih terus minta ditemani kemanapun aku pergi. Sekolah, kerja, bahkan hanya kerumah seorang teman aku masih minta diantarkan. aku tahu usianya tak lagi muda, dan banyak yang tak lagi sama, seperti tubuhnya yang semakin melemah, aku menangkap kelemahan itu saat matanya terpejam, saat dia duduk menunduk. Bapak tak lagi muda.

Untuk yang sering ku perhatikan sedang duduk menunduk..

Semakin bertambah umurku, semakin berkurang jatah usiaku, semakin dewasanya aku, itu semua membuatku tahu alasan dari segala ikhtiar yang kau lakukan, dan jawaban dari pertanyaan kenapa kau rela sakit dan menukar semua kebahagiaan yang kau punya hanya demi aku yang belum juga menjadi apa-apa. Sekarang aku tahu, bahwa itu semua karena Cinta.

Terimakasih banyak untuk kuatmu, untuk cintamu, untuk pengorbananmu, untuk semua yang sudah dan masih kau lakukan hingga nanti untuk ku. Maafkan aku yang belum juga menjadi yang kau mau. Semoga Allah mencukupkan waktu ku untuk bahagiakan mu, dan semoga Allah membalas setiap peluhmu dengan kebahagiaan yang tak lagi semu.

Bertahanlah Pak.. aku mencintaimu. 

*backsound: Ebit G Ade - Titip Rindu Buat Ayah.
created by: @ninitatabon

Wednesday, 11 December 2013

Mencari Kelegaan.



Dulu, guruku pernah mengatakan. “Semakin bertambah usia kita, semakin dekat pula kita pada moment perpisahan dengan orang tua”. Kalimat beliau mengena hingga ke hati.
Tepat, karena setiap harinya  Tuhan akan memotong jatah hidup kita, jatah kebersamaan kita dengan mereka yang kita cinta. termasuk Ibu dan bapak.

Aku tidak pernah tahu berapa lama lagi kontrak hidupku, masih lama kah? Atau hanya hingga besok kah? Tapi kapanpun itu, aku selalu memohon disetiap akhir sujud dalam sholatku agar Allah mencukupkan waktuku untuk membahagiakan orangtua ku.

Bulan depan, tepat 19 tahun aku hidup bersama dua orang malaikat yang akrab ku sebut “mamah dan bapak”, nyaris 19 tahun sudah. Setiap waktunya ku habiskan bersama mereka, tak tertinggal satu hari pun, dari awal pagi ku membuka mata hingga malam ku menutup mata. Benar adanya kata banyak orang bahwa semakin tua kita akan semakin banyak tahu. Setiap harinya, semakin berkurang jatah hidup ternyata semakin getir rasanya kehidupan. Coretan ku kali ini bukan maksud mengeluhkan hidup, hanya ingin melegakan sedikit kesesakan.

Aku fikir tidak ada ukuran usia untuk seorang anak berbakti kepada orang tuanya, mungkin yang ada hanya ukuran seberapa dewasakah seorang anak membuka fikirannya.

Iya, setiap harinya waktu menuntutku untuk tahu tentang banyak hal.
Tentang harapan yang tidak semuanya dapat tercapai, tetang cita-cita yang hanya akan menjadi cita-cita, tentang fisik yang harus semakin kuat, tentang hati yang tidak boleh lelah berjuang, tentang kenyatan yang menyesakan, tentang takdir yang tak bisa dilawan, tentang rencana-Nya yang tak pernah ada yang mengetahui, tentang kejutan-kejutan kecil dan besar yang telah Allah siapkan, tentang lisan yang tak boleh mengeluh. Tentang aku yang harus semakin dewasa.

benar kata orang diluar sana, hidup itu seperti roda, yang berputar keatas pasti akan berputar kebawah. begitulah hidup yang dihadapkan padaku. Dulu, sebelum sampai dititik ini  aku masih bisa melihat senyum bahagia kedua orangtuaku, senyum yang terlihat lega walau beban hidup sedemikian berat dipundaknya, namun semakin hari waktu semakin tidak meringankan bebannya, tapi semakin bertambah beban dipundak mereka. entah apa yang sedang Allah rencanakan untuk hidupku, hidup kami, hidup ku dan keluarga ku. entah aku yang memang sudah saatnya untuk mengetahui banyak hal, atau memang kenyataan yang tak bisa disembunyikna dari mata? kenyataan hidup begitu menghimpit, hingga tak jarang aku melihat kedua orangtuaku sesak karenanya, dan disanalah rasanya aku tak berguna. Saat orangtuaku tercekik kenyataan pahit, aku hanya bisa diam saja.

tak berguna.
aku.. tak bisa apa-apa.

aku hanya seorang gadis kecil mamah yang semakin beranjak dewasa, selepas SMA aku memutuskan untuk bekerja dibarengi kuliah, ini tidak mudah, berkali-kali aku berpindah tempat bekerja, dan dengan gaji yang tidak seberapa. jika bisa memilih aku ingin sekali kuliah regular seperti teman-teman kebanyakan yang menggunakan waktunya fokus untuk study saja, namun Allah tak menghendakinya, dan orangtua ku pun tak mampu penuhi inginku, maka biarkanlah semua tetap menjadi keinginan, ku kubur dalam harapan, setidaknya aku masih bisa sekolah :')

aku bertahan disini, didesa ini, tidak seperti teman-teman yang berani merantau ke kota orang, aku lebih memilih tetap tinggal dengan kedua orangtua ku. banyak teman yang sering meledek ku, "mau apa didesa saja? kamu nanti ngga tau apa-apa", katanya. hanya tersenyum saja yang ku bisa untuk menjawab pertanyaan mereka, toh dijelaskan pun mereka tak akan mengerti. 

bagiku, rumah adalah tempat terbaik untukku walau kadang jengah menghampiri. tidak ingin munafik, aku sebenarnya ingin seperti mereka yang merantau ke tempat orang, namun fisik ku tak sama kuat seperti mereka, dan alasan utamanya adalah setidaknya walau aku tak seberani mereka tapi saat ibu ku membutuhkan ku, aku ada.

namun, jujur..

Aku iri. Iri pada mereka yang mampu membantu orangtuanya dengan hasil jerih payah mereka. Manis rasanya jika ku membayangkan seperti mereka. penghasilan di kota dan di desa jelas amat sangat berbeda. itulah alasan mereka berani merantau ke kota orang, tapi.. Tuhan sudah mengatur rezeki masing-masing makhluknya, maka iri pun aku untuk apa?


Aku yang hanya pegawai honor disebuah sekolah, yang upah perbulannya 10 kali lipat ebih kecil dari teman-teman di kota sana, yang hanya bisa memberi hasil kerja jauh dari kelayakan kepada orangtua. Mamah selalu mengatakan, "mamah tidak minta kamu beri, sudahlah, kamu simpan saja untuk biaya kuliahmu". tapi, anak mana yang tega membiarkan orangtuanya di himpit kenyataan? walau hanya satu lembar saja, aku selalu berusaha memberi untuk mereka. satu lembar saja, yang mungkin tak ada artinya untuk orang-orang diluar sana, satu lembar yang sangat berharga.

aku hanya seorang anak yang tidak cukup kuat untuk hidup tanpa dibimbing, aku hanya seorang anak yang tidak cukup berani untuk berjalan seorang diri, tapi.. kenyataan memaksaku untuk kuat dan mampu tanpa dibimbing dan didampingi, kenyataan memberitahuku bahwa yang selama ini mendampingi dan membimbingku tak mampu lagi lakukan itu, mereka sudah cukup lemah untuk terus mengajariku. 

sekali lagi.. coretanku tak bermaksud mengeluh, dan setiap kata yang ku tulis tak bermaksud menyakiti. aku hanya mencari sedikit kelegaan dari banyaknya sesak yang ku rasa. 

Mamah.. aku amat sangat mencintaimu, aku tidak tahu berapa lama lagi kontrak kebersamaan kita, jika aku bisa tentukan aku ingin bisa selamanya, tanpa ada perpisahan, tanpa ada kesusahan.
Mamah.. kau tahu? hati ini sangat sakit melihatmu menangis diam-diam, meihatmu lemah dihimpit kenyataan, melihatmu tak sekuat dan sebahagia dulu, apa ini semua karena ku? maafkan aku Mamah, yang belum mampu menjadi dan memberikan apa-apa, maafkan aku yang hanya bisa mendoakanmu. tapi, ketahuilah aku sangat mencintaimu, terucap atau tak terucap oleh lisanku.

Bapak..  maaf kan aku yang masih merepotkan mu, menjadi beban untuk hidupmu, maafkan aku yang tak mampu memberikan apa-apa padamu. Kau selalu mengeluh sampai kapan kita akan lepas dari jeratan menyakitkan ini, kau selalu berkata "andai saja", aku tak kuat mendengarnya, aku lemah melihat lemahmu pak, kau selalu berikhtiar semampu mu, tapi Tuhan belum menghendaki kita untuk lepas dari jerat kenyataan ini. maaf kan aku pak.. yang belum mampu menjadi apa-apa untuk mu, maaf kan aku yang tak berguna untuk kalian. jika aku tahu cara mengembalikan senyum lega kalian seperti dulu, akan kulakukan sekarang juga walau harus ku bayar dnegan kebahagiaanku sendiri.

bertahanlah Mah..
bertahanlah Pak..

aku ada, walau aku selalu diam, walau hanya satu lembar yang mampu ku berikan, walau kecanggungan membuatku terkesan acuh, tapi aku ada, dan akan selalu ada saat kalian butuh.

teruslah mendokan ku, Semoga Allah mencukupkan waktuku untuk membahagiakanmu, dan meridhoi ku untuk melepaskan kalian dari jerat kenyataan menyakitkan.

dari anakmu..
Yang amat sangat mencintaimu.

Wednesday, 4 December 2013

#FF Ikhlas Tak Mengingatmu Lagi.

Aku masih duduk mematung dikursi taman ini, sudah dua jam lamanya dengan terus menggenggam kotak berwarna coklat muda lengkap dengan pita cream sebagai hiasannya. hadiah terakir darimu yang berisikan gelang yang kini melingkar di pergelangan tanganku.

"Apa kabar kamu?". aku berbisik, menguap banyak rasa dalam hati.

entah ini sudah detik ke berapa dihidupku yang ku habiskan hanya untuk duduk disini ditempat pertama kita bertemu, hanya untuk mengenangmu.

Aku memejamkan mataku, menikmati sendiriku disini.
basah pipi ku begitu saja. ada sakit menghujam dalam dada.

"Sampai kapan?". aku mulai terisak.

"Tuhan, bukan maksudku tak menerima takdir-Mu. tapi, harus sesakit ini kah rasanya mengingat sesuatu? atau karena aku terus mengenangnya setiap waktu?".

Aku menghela nafas mencoba menguatkan diriku sendiri. "Andai aku tahu cara cepat merelakanmu." lirih ku dalam hati.


"Aku masih ditempat ini, tempat pertama kita bertemu. selamat hari jadi pernikahan, sayang. aku selalu mendoakanmu. aku mencintaimu. semoga perjuanganku untuk mengikhlaskanmu pergi dapat memudahkan jalanmu menuju surga-Nya. dan aku terus coba ikhlas untuk tidak mengingatmu lagi, bukan melupakan hanya mencoba merelakan". Aku menengadah, menatap langit yang mulai redup menuju senja.

tema: Geisha - Lumpuhkan Ingatanku.
created by: @ninitatabon
di ikutkan dalam #FF2in1 nulisbuku.com

Thursday, 21 November 2013

Berdialog dengan Dingin



selamat malam dingin, sudah lama  kita tak bersua. diluar hujankah? tapi, kenapa tak ada wangi tanah basah? terang saja, dingin ini bukan dingin yang berasal dari air yang jatuh dari langit ternyata. hawa dingin menjelang tengah malam, dipadu dingin dari seonggok daging dalam rongga dada. dingin dari Hati.

tidak tahu harus mulai mencoret dari bagian mana, langsung menuju Reff ataukah perlu intro?
ah sudahlah, coret-coret saja sesuka ku, coretan orang yang sedang berada pada fase kebimbangan paling absurd. aku membicarakan tentang bimbang milik diriku sendiri. Entah bimbang atau dilema ini namanya, rasanya tak nyaman. Aku tengah mengharap kejelasan untuk hal yang masih samar-samar, menunggu keterangan untuk meneragkan hal yang masih gelap untuk diyakini.

hey dingin, pernah kah kamu sebimbang ini? saat hawa panas mulai menggantikanmu pernahkah kamu bimbang untuk tetap tinggal atau rela pergi? tapi, aku rasa kamu rela-rela saja, karena Tuhan sudah menakdirkan mu untuk patuh pada kehendak-Nya. ya kan? bahkan ketika banyak manusia yang masih menikmati dinginmu, jika Tuhan menetapkan mu untuk pergi dan digantikan dengan hawa hangat pun kamu manut saja. Andai aku seperti kamu, mudah menerima segala ketentuann-Nya.

tapi, aku bukan dingin.

aku manusia yang ada dalam kebimbangan, bimbang menentukan pilihan.
ini terlalu cepat rasanya, harusnya ini belum waktunya aku menetapkan pilihan, di usia yang masih lebih memilih membaca banyak serial komik kesukaan dari pada belajar memasak ini aku sudah dihadapkan pada pilihan menyulitkan. Tapi, kata sebagian orang aku ini beruntung, katanya Tuhan memudahkan ku, karena umur bukanlah ukuran kemantapan, tapi yang terpenting adalah niat pada saat memutuskan.

hey dingin, aku bimbang. amat sangat bimbang.
Aku tidak tahu mana yang paling baik, antara menjadi kuat karena memperjuangkan atau merasa bahagia karena diperjuangkan, berani memlih atau ikhlas dipilih? Dan aku bimbang dalam melanjutkan perjalanan, antara terus berjalan melewati jalan yang tertutup tebalnya kabut, atau memutar balik melewati jalan cerah tapi pijakannya mudah rapuh.

aku fikir, aku butuh banyak waktu untuk putuskan semua kebimbangan ini. Tapi, aku pun bimbang menentukan sebanyak apa waktu yang ku butuh. Hingga aku menjadi sarjana? Hingga usia menujukkan kepala dua? Hingga kakakku terlebih dahulu yang melakukannya? atau, Hingga aku lupa bahwa aku pernah terluka?, mungkin pertanyaan terakhir adalah pertanyaan paling tepat untuk menjawab sebanyak apa waktu yang aku butuh untuk menyelesaikan kebimbangan ini. Karena benar kata mereka, bahwa usia bukan masalah, tapi niat dan kemantapan hatilah yang tentukan semua. Namun, bagaimana hatiku bisa mantap memilih jika hatiku masih belum sembuh dari lukanya?

Jadi, hingga kapan aku butuh waktu untuk membuat semua luka menjadi bekas yang berlalu? hingga kapan aku mampu mengucap kepastian itu? bodoh, aku bertanya pada diriku sendiri yang tak tahu jawabannya. Jika memilih satu diantara dua adalah hal yang mudah, maka bukan tidak mungkin bahwa didunia ini tidak akan ada lagi yang dinamakan "Kebimbangan". Sungguh, aku hanya ingin memutuskan dengan dibarengi bersama Ridho dan Ketentuan-Nya. Karena sebuah keputusan harusnya tak ber-"tapi" dan tanpa "karena", maka dari itu hanya Takdir dari-Nya yang bisa lakukan itu semua. Jadi, haruskah aku menerima ajakan komitmen serius seseorang yang pernah melukai hati ini atau terus menunggu kepastian seseorang yang tak tahu sedang di nanti?

 hey dingin, pernahkah kamu sebimbang ini?

Wednesday, 13 November 2013

#FF Hujan Pukul 4 sore

Wedang jahe buatan ibu mengalir nikmat ditenggorokanku, hujan membuat wedang jahe ini terasa begitu menenangkan, tangan ibu benar-benar tangan malaikat. Aku masih terus menggenggam cangkir yang berisi minuman favoritku sambil menatap keluar jendela rumah. Hujan kali ini tidak begitu deras, tapi suara air dari langit yang beradu dengan tanah dan wangi yang ditimbulkannya selalu menenangkan hati. Begitulah, Hujan selalu punya cerita, untuk orang-orang yang merindu, atau orang yang sedang menunggu. Untuk aku.

Ponselku berdering tanda pesan masuk, dari nama kontak yang tak asing untuk ku, "jangan terlalu lama menikmati hujan di jendela, kamu bisa masuk angin setelah menikmatinya". Ku balas cepat, "cerewet". Ada balasan berbentuk emoticon smile darinya. "Dari mana kamu tau aku sedang menikmati hujan dari jendela?", agak lama seseorang diujung ponsel itu membalas, saat aku menikmati tegukan terakhir wedang jahe yang ku pegang ponselku berbunyi mengisyaratkan sms ku terbalas , "aroma wedang jahe ditanganmu yang memberitahuku", dengan berakhiran emoticon smile dia membalas. Aku menatap keluar jendela, memandang halaman rumah, menikmati segarnya pemandangan bunga anggrek putih milik ibu yang basah karena hujan. Jam 4 sore yang indah. Aku terus tersenyum. Pada air yang jatuh dari langit aku berbisik "Terimakasih Tuhan".

Aku merasa sangat istimewa. Aku selalu dibuatnya jatuh cinta, walau dia tak berada disisiku tapi dia selalu memperhatikanku. Aku tak salah memilih, kamu selalu membuatku merasa sempurna dengan terus diperhatikan dengan cara yang indah.

Lagu dari Bryan McKnight mengalun lembut ditelingaku, "Marry Your Daughter". Mengingatkanku pada moment indah malam itu. Dia yang basah kuyup menerjang hujan sendirian demi berkunjung kerumahku, bukan untuk bertemu denganku, tapi hanya ingin menemui ayah ku. aku tak menemuinya, dari dalam kamar aku mendengar percakapan mereka, aku menggenggam erat tangan ibu, menangis haru mendengar percakapan mereka diruang tamu kala itu. hanya itu yang aku bisa. Senyumku mengembang berbaur dengan wangi aroma tanah basah yang memasuki indra penciuman. Untuk ke sekian kalinya, Aku jatuh cinta pada orang yang sama. Walau ini bukan kali pertama, dan tak peduli dari mana kamu tahu apa yang sedang kulakukan, caramu memperhatikanku dari sudut yang tak aku tahu membuatku merasa istimewa, selalu membuatku jatuh cinta.

"Aku bahagia tercipta dari tulang rusukmu, suamiku".

Hujan  mulai reda. Playlist laguku mengarah pada Sheilla On7. "Anugerah Terindah yang Pernah Ku miliki" mulai terdengar, bersamaan dengan itu, sms terkirim.



created by: @ninitatabon (on twitter)


Monday, 11 November 2013

#FF Ikhlas?


secangkir moccacino hangat sedari tadi ku aduk dan belum ku minum. malas rasanya mengangkat gagang cangkir menuju mulut untuk membiarkan isinya mengalir di teggoorkanku, padahal ini adalah minuman favoritku.

"mau sampai kapan begini terus?" suara Ambar sahabatku menyadarkanku dari lamunan panjangku. tanpa sadar minuman hangat yang sedari tadi ku aduk hampir dingin. aku hanya membalas pertanyaan Ambar dengan tatapan datar.

"gua benci yah sahabat gua yang begini. gua kangen lu yang dulu! please ndi, Andri kan udah....". aku menoleh dan menatap tajam tanpa suara pada Ambar saat dia menyebut nama seseorang yang 2 tahun ini menetap pada sudut fikir dan memang sedari tadi ku fikirkan, Ambar tak melanjutkan omelannya. dia memeluk ku erat. "gua kangen lu ndi, kangen banget sama lu". sambil terisak dia memeluk ku.

"udah 2 tahun lu begini. ikhlas ndi, ikhlas." tangannya mengusap lenganku layaknya orang menenangkan, padahal dia yang butuh ditenangkan. tunggu dulu, apa katanya? ikhlas? sering sekali ku dengar kata itu keluar dari mulut mereka yang "mungkin" risih pada yang ku lakukan ini, duduk di gazibu rumah setiap sore bersama moccacino hangat buatan ibu yang sampai dingin pun tak ku sentuh.

aku tersenyum datar pada Ambar. mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja. "Ini cara ku mengikhlaskannya". Ambar menghapus air matanya. "Indi! itu-itu terus jawaban lu! ini udah takdir Ndi, ngga ada yang pernah tau, ngga ada yang bisa hindarin, ini udah maunya yang di Atas, kapanpun Dia mau, dan ngga ada yang tau kalau kecelakaan itu bakal kejadian satu hari sebelum kalian menikah!". aku mengatupkan bibir ku rapat-rapat, tak ada yang ingin ku ucap. biar air mata yang menjawabnya.

aku bukan tak percaya pada takdir-Nya, bukan pula membangkang kehendak-Nya. aku hanya butuh waktu, waktu yang aku sendiripun tak tahu hingga kapan ku mampu membiarkan semuanya berlalu menjadi masa lalu. semua, tentang aku dan dia yang sama-sama cinta pertama, tentang aku dan dia yang saat masa SMA sama-sama memendam rasa, tentang aku dan dia yang dipisahkan oleh jarak saat berada dibangku kuliah, tentang aku dan dia yang mengenal manisnya cinta, tentang aku dan dia yang memutuskan menikah, dan tentang dia yang pergi untuk selamanya saat satu hari sebelum kita menikah, dan tentang aku yang tak mudah lupakannya. karena ikhlas adalah bukan seberapa cepat kita melupakan, tapi seberapa mampu kita melepas, membiarkan takdir membawanya.

"aku cuma butuh waktu, Mbar. Maaf, berkali-kali aku harus bilang bahwa ini caraku mengikhlaskan. dengan menikmati setiap detik kepergiannya disini". aku tersenyum tegar, dan sekali lagi menegaskan bahwa aku baik-baik saja.

 Aku mencintaimu, tapi aku tak punya hak tentukan takdir.

#FirstFF @ninitatabon

Thursday, 31 October 2013

Kalau Saja.



Nama-nama itu berbisik pada otak, aku tidak boleh diam, karena akan semakin kencang pula ia berbisik.
tengah malam saat ini, hari hampir berganti. didetik ini yang seharusnya merebah lelah, aku memilih mencoret apa yang ku bisa, hanya untuk sebuah rasa lega.



mencoret tentang aku, kamu, dia, mereka, kita.



terlalu banyak yang berperan dalam sebuah cerita tidak akan bagus endingnya, begitu mungkin kira-kira hal yang pas mengistilahkan tentang kita.



tentang aku yang memilih sendiri. tentang kamu yang berusaha menyendiri. tentang aku yang memilih pergi. tentang kamu yang sudah pergi. tentang aku yang menanti. tentang kamu yang mencari. tentang kita yang sama-sama menemukan. tentang dia. tentang dia. tentang mereka yang kita temukan. tentang kita yang sama-sama beranggapan.


Katamu... Kalau saja..
dulu, tetap kita.. tak mungkin akan ada mereka.
tak mungkin ada dia. tak mungkin ada dia pula.

Katamu... Kalau saja..
Aku, tak diam. Aku, utarakan. Aku.. dan aku.
Katamu... bukan menyalahkan. ini hanya tentang kamu. bukan karena aku.

Pengembalian yang mengejutkan.
Saat sudah ada dia, saat sudah ada dia pula.
Saat sudah ada mereka.
Saat sudah tidak ada lagi kita.

Dan, kataku.. Kalau saja..
mampu kita kendalikan,
mamu kita atur menurut kesukaan,
mampu kita benahi tanpa ada paksaan,
mampu kita yang tentukan..
tak akan ada lagi kita. hanya ada aku dan dia. kamu dan dia. mereka menjadi kita.

Tapi, Kalau saja.
jadi, biar serahkan pada Empunya Semesta. Penerima segala doa. Perancang yang sempurna.
Biar menguap segala rasa. Pada yang di Atas Sana.