Tuesday, 23 July 2013

Kisah Cinta Ali dan Fatimah

Cinta sahabat Ali dan Fatimah memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun expresi. Hingga konon karena saking teramat rahasianya setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya. Dan akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan. disinilah bunga-bunga cinta mulai merekah, sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Ummar melamar fatimah, sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Apalagi yang menjadi "saingannya" adalah 2 oanrg sahabat terbaik nabi. Pada saat kaum muslimin hijrah ke madinah, Fathimah dan kakaknya Ummu Kulsum tetap tinggal di Makkah, sampai Nabi mengutus orang untuk menjemputnya. Setelah Rasulullah SAW menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar. Para sahabat berusaha meminang Fathimah. Abu Bakar dan Umar maju lebih dahulu untuk meminang tapi nabi menolak dengan lemah lembut. Lalu Ali bin Abi Thalib datang kepada Rasulullah untuk melamar.

Nabi bertanya: “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”
Ali: ”Tidak ada ya Rasulullah”.
Nabi: “ Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,”
Ali: “ Masih ada padaku wahai Rasulullah."
Nabi: “Berikan itu kepadanya (Fatihmah) sebagai mahar”,

Ali bergegas pulang dan membawa baju besinya,Nabi menyuruh menjualnya dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affan seharga 470 dirham. Kemudian diberikan kepada Rasulullah dan diserahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin. Dan di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya. Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib, setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama Al- Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H. 

Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah.
Fatimah berkata kepada Ali: "Wahai suamiku, aku telah halal bagimu, aku sangat bersyukur pd Allah karena ayahku memilihkan suami yg tampan, sholeh, cerdas & baik sepertimu" 
Ali : “Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang, aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.”
Fatimah : (berkata dengan lembut) “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tangga kita”.
Ali : “Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu…”.
Fatimah : “Wahai Ali suamiku, maafkan aku tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan aku denganmu Sekarang aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah”

Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama, suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan sholehah. Tapi Ali juga terkejut dan agak sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa agak sedih karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah. Ali kagum pada Fatimah yg mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada org tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas, namun Ali memang sungguh pemuda yang sangat baik hati, ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah, tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa agak bersalah jika hati Fatimah terluka, karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan didalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi disisi lain Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak.

Fatimah pun lalu berkata: “Wahai Ali suamiku sayang, Astagfirullah maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur padamu, saat ini kaulah pemilik cintaku, raja yang menguasai hatiku.”

Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu.

Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali: “Wahai suamiku Ali, tak usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita berdua nikmati malam indah kita ini. Ayolah sayang, aku menantimu Ali”

Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah.
tiba-tiba Ali pun berkata:  “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu. tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti, aku merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta padaku."

Fatimah pun tersenyum mendengar kata-kata Ali, Ali diam sesaat sambil merenung, tak terasa mata Ali pun mulai keluar air mata.

lalu dengan sangat tulus Ali berkata lagi: “Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku akan ikhlas, lagi pula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu, aku tak ingin cintaku padamu hnya bertepuk sebelah tangan, sungguh aku sangat mencintaimu, demi Allah aku tak ingin kau terluka… Menikahlah dengannya, aku rela”.

Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap Ali, Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, ketika itu juga Fatimah ingin berkata kepada Ali. tapi, Ali memotong dan berkata: “Tapi Fatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu"

Airmata Fatimah mengalir semakin deras, Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. 
Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu: “Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah."
Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya. Setelah emosinya bisa terkontrol,
Fatimah pun berkata kepada Ali: “Wahai Ali, Awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya .aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu, sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu, tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah wahai Ali?".

Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya.

Ali: ”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah bilang sangat mencintaiku,dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku,apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah? sudahlah tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”

Fatimah pun kembali memeluk Ali dengan erat, tapi kali ini dengan dekapan yang mesra. Lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja: “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun, sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini, aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila ku bertemu dengannya. Tapi tahukah engkau wahai sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yg baru dinikahinya."

Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali.

Fatimah: ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam saja ya, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku…”
Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu…? “
Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku”.

#tsaaaaaah

sumber: @tausiyahku on twitter, semoga bermanfaat ^^v

Monday, 22 July 2013

"Kejutan Berharga dari Abi"

Kumandang adzan terdengar sayup-sayup dari musolah dekat rumah, alarm berdering tepat waktu dipukul 04.30 setiap harinya, sadarkan diri dari lelap, membuka mata dan duduk memandangi kamar selama 5 menit adalah ritual bangun pagi Kiki setiap hari, tujuannya adalah bersyukur dalam doa karena dia masih bangun dan hidup ditempat yang sama seperti saat memejamkan mata untuk tidur semalam, masih dikamar tercintanya. Setelah cukup terkumpul kesadaran dari tidur nyenyaknya barulah gadis yang 4 hari lagi berumur 17 tahun itu keluar dari kamarnya. "selamat pagi, Abi" adalah kalimat pertama yang kiki ucapkan setiap harinya jika sudah berada diluar kamar, menyapa abi yang sudah rapih dengan baju koko, sarung, dan kopiahnya untuk pergi melaksanakan solat berjamaah dimusolah, "pagi" dengan senyum hangat abi biasa menjawab sapaan kiki setiap pagi.

Begitulah kiki dan abi biasa mengawali harinya. Kiki dan umi melaksanakan solat berjamaah dirumah karena sebaik-baiknya tempat solat untuk wanita adalah dirumahnya, begitulah pesan Rasulullah yang sering abi katakan. Setelah selesai solat berjamaah dengan umi biasanya kiki langsung duduk manis didepan TV untuk menonton film kartun kesukaannya jika sedang malas untuk membaca materi pelajaran sekolah yang akan dipelajari hari ini. Tapi pagi ini berbeda, kiki tidak menonton kartun kesukaannya ataupun membaca buku pelajaran, dia lebih memilih duduk didepan teras rumah, raganya ada di dirumah tapi fikirnya ada ditempat dia akan melaksanakan lomba melukis yang diadakan 3 hari lagi. Kiki mewakili sekolahnya mengikuti lomba melukis tingkat SMA seprovinsi tempat tinggalnya, hanya satu siswa yang mewakili masing-masing kota. Kiki terpilih mewakili kotanya setelah melakukan seleksi dari masing-masing sekolah sekabupaten.

Ada yang mengganjal dihati Kiki, dia merasa nervous dan tidak PD untuk mengikuti lomba, tidak seperti biasanya. Kiki adalah seorang gadis remaja yang memiliki bakat seni lukis didalam darahnya, umi pernah bercerita bahwa dari kecil kiki sudah sangat senang dengan menggambar, senang mengikuti lomba dan menjadi 3 besar disetiap lomba yang dia ikuti. Darah seni yang ada dalam diri kiki diwarisi dari abi, abi memang bukan seorang seniman, abi hanya seorang pegawai swasta biasa tapi tangan abi tidak seperti tangan orang biasa, dari tangannya sebuah garis saja bisa diubah menjadi objek indah.

Cukup lama Kiki duduk dalam diam, memikirkan apa yang dia ketahui semalam tentang lomba yang akan dia ikuti. Tadi malam dia mencari informasi tentang segala hal mengenai lomba yang diadakan tepat sehari sebelum ulang tahunnya itu. Informasi yang Kiki dapatkan ternyata membuat dirinya tidak PD untuk mengikuti perlombaan, karena dia akan bersaing dengan lawan-lawan yang menurutnya lebih baik darinya. Kiki hawatir dia akan mengecawakan banyak pihak, terutama pihak sekolah yang sangat membanggakannya karena salah stau siswanya membawa nama kota tempat tinggal mereka, hal itu pula yang membebani Kiki, Kiki merasa dia mungkin mampu bersaing dengan antar sekolah, tapi untuk kali ini apa kiki bisa? pertanyaan itu terus menggelayuti fikirannya.

"Ngga nonton kartun, Ki?" tanya abi yang sedari tadi ternyata sudah duduk disamping kiki tanpa kiki sadari. "Loh? Abi udah pulang?" tanya kiki kaget."Dari 5 menit yang lalu abi disini, abi lewat pintu samping, langsung kesini kaya biasanya, tapi sampai sini ternyata tempat abi udah ada yang dudukin, yang dudukin lagi ngelamun lagi" kata abi dengan melirik kiki. "eh.. maaf bi, lagian abi ngga negur kan kiki ngga tahu" jawab kiki setelah mencium tangan abinya. "ngga enak ganggu kekhusyukan orang yang lagi ngelamun" abi tersenyum, pipi kiki memerah malu."ngelamunin apa? Masih pagi kok ngelamun, mending liat kartun" kata abi jahil."ngga kok bi, ngga ngelamunin apa-apa" kiki menjawab cepat. "hari yang baru saja dimulai ngga baik loh diawali dengan kebohongan" abi menatap kiki dengan senyuman, senyuman yang mengartikan bahwa abi tak bisa dibohongi.
"bukannya abi juga setiap pagi duduk disini untuk ngelamun?". Tuduh Kiki. "Tidak, siapa bilang?" abi heran. "terus ngapain? Setiap pagi sepulang dari musolah abi hanya membuka pintu rumah dan mengucap salam lalu langsung duduk disini tanpa melakukan apa-apa? Apa itu bukan ngelamun namanya?" kiki tak mau kalah."siapa bilang abi hanya diam dan tidak melakukan apa-apa? Ada yang tidak kamu tahu dariabi" jawab abi dengan mimik muka serius."hah? Apa bi?" kiki penasaran."abi sebenarnya..." abi diam tak melanjutkan kalimatnya, kiki menatap abi tak berkedip menunggu kalimat apa yang akan diucapkan abinya, kemudian dengan menghela nafas abi melanjutkan kalimatnya, "abi sebenarnya merenung disini ki, merenungi nasib abi, kenapa abi ini ganteng sekali?" serius sekali abi menjawabnya, kiki merasa geli mendengar jawaban abi, tawa menyelimuti mereka berdua, tawa yang hadir dimudanya pagi yang wanginya masih jelas terasa hingga ke hati.

"ih abi PD banget!!" kiki tertawa geli, tawa kiki manis sekali dimata abi, gigi yang tersusun rapih dengan bibir tipis dan lesung pipi yang dimiliki anak semata wayangnya itu menambah energi baru untuk hatinya hari ini. Tawa kiki menetramkan hati abi, "bukankah hari selalu baik diawali dengan ketenangan hati?" kata abi dalam hati. Abi tersenyum melihat tawa kiki, senyum yang penuh arti. "aku duduk disini mau ngerasain gimana sih rasanya duduk di teras pagi-pagi gelap begini kaya yang biasa abi lakuin setiap hari" kiki menjelaskan."tapi abi nggangelamun kaya kiki" abi melirik kiki."terus ngapain?"
"abi duduk disini bukan tanpa alasan atau kurang kerjaan ki, mungkin kiki tidak tahu, abi sangat mencintai pagi dengan segala suasananya, diteras ini abi menikmati setiap dingin pagi yang terasa,mensyukuri semua yang masih abi terima, masih membuka mata dari tidur semalaman, masih bisa solat subuh dimusolah, masih mendapat sapaan kiki, masi hada dirumah ini bersama 2 bidadari yang abi sayangi, dan yang paling penting adalah karena pagi itu adalah awal hari maka sudah seharusnya kita merenungi hal-hal baik apa yang harus kita lakukan hari ini. Seperti yang abi bilangtadi, abi suka dengan suasana pagi, dengan dinginnya, wangi udaranya, danlangit merah diatas sana menjadi alasan kenapa pagi sangat pantas dicintai. Kiki juga harus bersyukur jika pagi sudah datang itu tandanya Allah masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan dihari kemarin". Abi menjelaskan, kiki takjub dengan apa yang baru saja dia dengar, karena fikirnya selama ini abi duduk diteras ini hanya untuk melamun sambil menghirup udara pagi saja, tidak lebih. Kiki mengangguk-anggukan kepalanya dan berusaha menyatukan hatinya dengan pagi, ternyata benar suasananya sangat menenangkan hati, "pantas saja abi betah berlama-lama disini, pagi memang sangat pantas dicintai". Katanya dalam hati.

Langit subuh menjadi ungu pagi tapi sepasang ayah dan anak ini masih enggan untuk beranjak dari teras rumah, mereka membatin dengan pemikiran masing-masing. Abi menatap gadis remaja disampingnya diam-diam, fikirnya berjalan mundur ke 17 tahun yang lalu tepat ke hari dimanakiki dilahirkan, Ramadhan tahun 1996 kala itu, disaat semua orang menikmati makan sahur ada seorang wanita yang memperjuangkan hidup dan matinya untuk buahhati tercinta, umi. Abi dengan setia mendampingi setiap detik perjuangan umi,dengan segala doa dan harapan yang abi panjatkan akhirnya pukul 04.10 pagi seorang gadis mungil hadir kedunia, Aisyah Rizkia Ramdhani buah hati yang selama 3 tahun mereka nanti, Kiki.
Iya, kiki lahir dipagi hari, diwaktu yang abi senang untuk nikmati, abi berharap kiki tumbuh dan berkembang secantik pagi,dengan segala keindahan yang kiki miliki membawa keteduhan bagi orang-orang sekitarnya, walau pagi tidak selalu datang dengan indah karena bisa saja hujan menutupinya tapi indahnya selalu dinanti oleh siapapun yang mencintai, seiring berjalannya waktu kiki pun akan beranjak dewasa dan tidak hanya keindahan yang akan ditemui dihidupnya, tidak hanya matahari pagi yang cantik dan embun yang menyegarkan mata yang akan menyelimuti hidupnya, tapi hujan pasti akan datang karena ketentuan-Nya, dan abi harap kiki tidak melemah karena hujan, abi mendoakan kiki agar selalu kuat dan mampu menjadi indah walau ada yang menutupidirinya, karena terkadang hujan tak datang sendiri, ada pelangi setelahnya,setelah kesedihan dihidupnya abi harap kiki mampu menjadikan kesedihan yang diarasakan membentuk keindahan baru untuk hidupnya dan orang-orang sekitarnya.


ditatapnya seorang gadis cantik disampingnya itu lekat-lekat, gadis itu kini sudah beranjak dewasa dan abi sadar bahwa mereka tidak akan bisa selamanya bersama. "Abi harap abi bisa mendampingimu selama yang abi mau, nak" lirih abi dalam hati. Kiki masih menikmati suasana pagi, sebuah hal baru yang dia kagumi. "Kamu belum jawab pertanyaan abi loh ki", tanya abi memecah keheningan. "Eh.. hmm.. oh iya", Kiki gugup.
"Jadi, apa yang kiki lamunkan pagi-pagi begini?""Kiki ngga ngelamun bi, kiki hanya sedang memikirkan acara yang akan diadakan 3 hari lagi"
"Lomba melukis itu?". Kiki mengangguk.
"Ada yang mengganjalkan? ceritakan ki, ada telinga yang siap mendengarkan", kata abi sambil menunjuk telinganya.
Kiki menghela nafas panjang, mulutnya dengan lancar menjelaskan hal yang sedang mengganjal fikiran dan hatinya, abi menyimak baik-baik, berusaha mencermati apa yang sedang dirasakan putrinya. "kiki takut mengecewakan bi", kata kiki sambil menunduk. abi tersenyum.
abi mengusap kepala kiki dengan lembut, "maksud dari yang kiki rasakan ini sebenaenya baik, kiki memikirkan perasaan orang lain. tapi itu terlalu jauh ki, yang kiki rasakan ini bisa diartikan rendah diri, jangan terlalu menghawatirkan hak yang belum terjadi ki." abi mencoba menenangkan.
"Tapi lomba kali ini benar-benar lomba yang bergengsi bi, saingan kiki dari sekolah-sekolah favorit seprovinsi, sedangkan kiki? hanya hanya berasal dari sebuah sekolah swasta yang mungkin hanya kebetulan lolos seleksi", kata kiki dengan raut muka yang benar-benar sedih.
"Harusnya kiki sadar karena ini adalah lomba bergengsi maka bukan dinilai dari seberapa favorit sebuah sekolah, tapi dinilai dari seberapa bisa setiap peserta mendeskripsikan tema kedalam kanvas lukis mereka, dan kiki tau?...", abi menghentikan sebentar kalimatnya. "Kiki terpilih bukan karena kebetulan, tapi karena bakat yang kiki punya. tidak banyak yang miliki bakat seperti kiki, dan tidak banyak yang mendapatkan kesempatan seperti kiki saat ini, kiki berjuang membawa nama sekolah dan kota bukan berarti harus berambisi menjadi juara tapi berusahalah dan yakinkan kami bahwa kiki akan melakukan yang terbaik yang kiki bisa dan lakukan semua dari hati, karena orang yang disebut juara belum tentu melakukan yang terbaik dari hatinya, tapi yang mampu melakukan yang terbaik dari hatinyalah yang pantas disebut sebagai juara". Abi menatap kiki, berharap ada ketenangan dalam mata anak satu-satunya itu.
"Tapi bi, bukankah seorang juara berarti sudah melakukan yang terbaik?", tanya kiki.
"Mungkin iya, tapi tidak semua. karena tidak banyak juara yang mampu berjuang dengan hati, bisa jadi hanya karena ambisi.", abi tersenyum, senyum yang selalu bisa menenangkan hati kiki. Kiki terus meresapkan setiap kalimat abi didalam hatinya. kiki mulai sadar bahwa fikiran-fikiran yang mengganjalnya adalah hanya karena ambisi, jika tidak ingin mengecewakan maka kiki harus berjuang dengan hati.
Kiki menganggukan kepalanya pertanda mengerti, dan terseyum pada abi. "Kiki mengerti sekarang, doakan kiki terus ya, bi. kiki janji nanti akan berlomba dengan hati". Kiki tersenyum dengan tatapan penuh makna pada abi.
"Sudah tenang ki? sana mandi, nanti umi ngomel, bahaya loh"
"Makasih ya bi", kiki tersenyum manis pada abi. Abi mengangkat jempol untuk membalasnya.
"Lakukan yang terbaik dari hati, untuk kami dan kado ulang tahun ke-17 kiki nanti", kata abi mencoba meyakinkan kiki lagi.
"Siap bos!!", kiki berlalu dari teras rumah dengan memberikan senyum yang mengartikan kekuatan baru yang dia tunjukan pada abi. Abi menghela nafas panjang, dia merasa tenang karena berhasil mengembalikan senyum kekuatan diwajah buah hatinya.

Pagi sudah berwarna biru muda, pukul 6 pagi tepatnya, abi berniat memasuki rumah mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, tapi sakit hebat terjadi dalam dadanya, abi mengelus dada dan mengatur nafasnya. "Aku akan terus berjuang melawanmu", abi berkata pada apa yang dia rasa. sakit didadanya.

Senin pagi saat itu, semua berjalan seperti biasa tapi tidak untuk kiki karena ini hari perlombaannya, pagi-pagi sekali dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Jam 7 pagi dia berangkat menuju sekolah bersama abi. Umi mengiringnya dengan doa. "Doakan, bi", kata kiki sambil mencium tangan abi sesampainya disekolah. "Pasti! ingat ki, dengan hati" abi tersenyum sebelum membiarkan kiki pergi bersama guru pembimbingnya menuju tempat lomba. Kiki mengangguk pasti.

Lomba telah dimulai, semua peserta berjuang dengan kanvas dan cat lukisnya, tidak terkecuali dengan kiki, dia sibuk melukis kanvasnya dengan hati.

                                                                               ***

Hari itu abi bekerja dikantor seperti biasanya, tapi entah kenapa ada yang berbeda pada tubuhnya hari itu, detak jantungnya tak beraturan, keringat dingin bercucuran, sakit hebat terjadi pada jantung didalam dadanya, pandangannya buram, abi mencoba tenang dan beristirahat sejenak dari pekerjaannya, tapi sakitnya makin tak tertahankan, hingga gelap seluruh pandangannnya. abi tak sadarkan diri.
Dengan tangis yang tak tertahankan umi berangkat menuju rumah sakit setelah mendapat telphone dari kantor tempat abi bekerja yang mengabarkan bahwa abi tak sadarkan diri seketika, dokter katakan abi kritis. Kelainan jantung yang selama ini abi tutupi ternyata semakin parah, obat-obat yang selama ini dikonsumsinya hanya mampu meredakan rasa sakit, bukan untuk menyembuhkannya. Umi menangis sejadinya, karena yang umi tahu selama ini abi baik-baik saja, dan obat-obatan yang selama ini abi konsumsi hanyalah vitamin biasa, begitulah abi menjawabnya, umi tidak menaruh curiga sedikitpun karena kejujuran adalah hal penting diantara mereka.

                                                                               ***

Lomba telah usai, setelah dilakukan penjurian saatnya mengumumkan pemenang, kiki berkumpul bersama peserta lainnya, mereka harap-harap cemas menunggu pengumuman, tapi tidak dengan kiki, perasaan kiki tak karuan, tapi bukan karena menunggu pengumuman, ada hal lain dihatinya. Abi. Entah mengapa kiki terus memikirkan abi, kiki berkata dalam hati untuk menenangkan dirinya, "Kiki sudah berjuang dari hati bi, tunggu kejutan dari kiki".

Juara 2 dan 3 sudah diumumkan, semua peserta tegang menunggu nama siapa yang akan dinobatkan menjadi juara 1. Perasaan kiki semakin tidak karuan, bayangan abi semakin jelas difikirannya, "Ada apa ini?" kiki terus bertanya pada hatinya. Ditengah-tengah kegelisahannya tanpa dia sangka ternyata nama Kiki disebut dengan jelas oleh seorang wanita, nama kiki menyelimuti ruangan tempat kiki berada karena disebut dengan jelas melalui pengeras suara, guru pembimbing yang sedari tadi duduk disamping kiki melonjak kegirangan, kiki masih belum sadar karena raganya ada ditempat itu tapi fikirnya pada abi. Kiki menjadi juara 1 dilomba ini. Tapi, bersama dengan itu dokter berkata pada umi bahwa mereka sudah berusaha melakukan yang terbaik. Abi tak bisa diselamatkan. Umi memeluk abi. Lirih.
Guru pembimbing kiki menerima kabar duka, mencoba menjelaskan pada kiki yang hatinya tengah senang menerima kemenangan, "kita harus segera kerumah sakit, ki". Kiki bingung, "untuk apa?". gurunya mencoba menjeleskan apa yang terjadi. Kiki meatung mendengar kalimat yang keluar dari gurunya itu. seluruh kekuatan yang dimiliki rasanya menguap ke udara, kiki tertunduk menangis memanggil abi, hatinya remuk redam, euforia kemenangan yang harusnya dia rasakan tertutupi dengan isak menyakitkan.

                                                                               ***

Hari ini hari ulang tahun kiki, pagi-pagi sekali kiki duduk diteras rumah seperti 4 hari yang lalu, tapi dengan rasa yang asing di hatinya. Kehilangan, belum pernah rasanya kiki rasakan ini. "Secepat ini kah?", mata kiki memanas tiba-tiba, dia memegang cat lukis yang belum terbuka, umi memberikannya tadi malam, "dari abi" katanya.
seperti sudah memiliki firasat, abi membeli hadiah ulang tahun kiki sehari sebelum abi meninggal saat esoknya kiki melaksanakan lomba, abi menaruhnya di lemari. "cat lukis untuk kiki", kata abi sambil tersenyum pada umu yang saat itu terus memperhatikan abi yang sibuk membungkus sebuah kado.
Kiki mengusap air matanya, menghayati suasana pagi saat itu. "Abi..", katanya lirih. "Kiki berhasil bi, semuanya dengan hati. Semua karena kekuatan yang abi beri 4 hari yang lalu ditempat ini, bi. hari ini usia kiki tepat 17 tahun, kepergian abi adalah kado paling menyakitkan tapi memberi banyak pelajaran. hadiah berharga yang tidak dapat dibeli dimanapun dan dengan uang sebanyak apapun. Keihklasan. Kiki harus bertambah dewasa dengan kepergian abi, keprgian abi membuat kiki harus mengakrabkan diri dengan keihlasan dan keberanian. Terimakasih banyak bi, 17 tahun sudah abi menjaga kiki. setiap tahunnya abi selalu memberi kejutan dihari ulang tahun kiki, kejutan terakhir yang kiki terima adalah sebuah boneka di ulang tahun kiki ke 16 waktu itu, abi selalu memberikan hadiah tepat diahri ulang tahun kiki, tapi di umur yang ke 17 tahun ini abi memberikan hadiah lebih cepat satu hari dari biasanya, sebuah kedewasaan yang sudah takdirnya memang harus kiki terima. Terimakasih banyak bi, kejutan dari abi akan selalu kiki simpan dalam hati, dan cat lukis ini akan selalu mengingatkan kiki bahwa kiki harus memperjuangkan semua yang kiki hadapi dengan hati". Kiki tak bisa membendung air matanya, umi yang sedari tadi memperhatikan kiki sudah tak kuat lagi berdiri, umi memeluk kiki erat. 2 bidadari yang abi sayangi itu menangis bersama dimudanya pagi diteras rumah mereka, menangisi rasa kehilangan, umi berusaha menguatkan kiki, membiarkan kiki larut dalam sedihnya, tapi umi pun tak  bisa bohongi hati bahwa memebiarkan abi pergi adalah hal yang sulit baginya, mereka berusaha menguatkan satu sama lain dan meyakinkan diri bahwa ini adalah yang terbaik untuk abi. setidaknya kini abi tak perlu menutupi rasa sakitnya lagi. "Terimakasih, abi". Kiki tersenyum daam tangisnya.

selesai.

#cerpen kedua, semoga bermanfaat ^^v

Friday, 5 July 2013

Bukan Aku

Manusiawi ketika seseorang mengharap kesempurnaan dihidupnya, mengharap bahagia setiap waktunya, atau
memiliki kenginginkan lebih dari setiap harapannya. Manusiawi ketika seseorang memiliki keinginan yang harus terpenuhi, ketika seseorang merasa harapannya harus terlampaui, atau ketika seseorang mengharap
kebahagiaan yang menentramkan hati.

Aku paham bahwa sebuah keinginan itu manusiawi, aku paham bahwa kebahagiaan itu harus terpenuhi, dan aku paham bahwa setiap manusia memiliki hati.
Setiap kata yang tertulis disini bukan hanya tentang sebuah ambisi atau pengakuan tentang hal yang manusiawi, tapi semuanya aku susun rapih untuk menceritakan dua buah hati. Dua buah hati yang tak mungkin kembali karena perbedaan persepsi.

Iya, berbeda.

Entah persepsi itu sama tidak dengan keyakinan hati, tapi aku menganggap itu satu arti. Tentang kamu dan aku yang tak akan lagi menyatu karena niat hati dan egois yang beradu.

Semua keinginan itu manusiawi, termasuk semua keinginanmu. Tapi, bukan aku yang mampu membantumu untuk mendapatkan semua inginmu, bukan aku jalan yang harus kamu tempuh untuk mencapai setiap harapmu, dan bukan aku yang seharusnya kamu tuju untuk hatimu.

Katamu.. Inginmu itu sederhana, miliki telinga yang bersedia mendengar setiap keluhan tanpa jeda, miliki mulut yang mampu ucap sayang dari pagi masih berkabut hingga malam kembali larut, miliki tangan yang mampu kau genggam ketika kau butuh berpegang, miliki sesosok wanita cantik dengan rambut panjang terurai yang saat kamu ingin bermanja setiap helainya dapat kau belai, miliki hati seorang wanita yang mampu berikan perhatian menentramkan, tapi kamu ingin miliki hati tanpa komitmen menikahi.

Iya.. Itulah inginmu, sederhana menurutmu, tapi bukan hal yang biasa untukku. Kamu katakan bahwa hatimu memilihku untuk dampingi bahagiamu, hatimu memilihku dengan berkata "aku butuh kamu", dan hatimu memilihku untuk setiap harapanmu.
Tapi, aku sadar aku bukan perempuan sempurna, maka aku harus melengkapi setiap kekurangannya dengan aqidah yang aku punya. Aku sadar aku tak lebih dari sekedar perempuan biasa, maka aku akan terus berusaha menjadi baik di mata-Nya sekuat dan semampu yang ku bisa, dan aku sadar bahwa kita tak pantas lakukan itu, lakukan hal yang tidak pantas di hadapan Rabbku, karena aku bukan mahrom mu.

Hatimu memintaku untuk memenuhi semua inginmu, menuruti setiap harapmu, dan menjadikanku sebagai alasan bahagiamu. Tapi, maaf.. Bukan aku yang harusnya kamu tuju, bukan aku yang harusnya kamu harap untuk bahagiakanmu, dan bukan aku yang mampu memberikan perhatian lebih disetiap keluh kesahmu. Bukan aku.. Karena aku tak bisa lakukan semua inginmu sebelum ada kata 'halal' antara kamu dan aku.

Aku minta kamu pahami niat ini,aku minta kamu hargai keyakinan hati ini, dan aku minta kamu tetapkan hati jika masih ingin disini. Tapi ternyata permintaan ku terlalu berat untukmu, dan tanggapanmu adalah manusiawi untuk ku, hingga akhirnya kamu memilih hati baru pun aku anggap itu adalah hak mu.

Kecewa ada, sakit itu terasa, kenyataan didepan mata, lalu aku bisa apa? Karena rasa itu anugerah maka aku tak ingin larut dalam duka.

Kecewa atau apapun itu sudah ku biarkan berlalu, Karena dari hal itu aku paham bahwa yang terbaik untuk ku bukanlah kamu, dan yang mampu penuhi inginmu itu.. bukan aku.

*janji-Nya tak akan palsu, Q.S: An-Nuur: 26