Friday, 30 September 2016

Ketika September Berakhir

Tentang hidup yang tidak pernah bisa kita tebak, ia miliki banyak cerita yang alurnya bagai labirin, berliku dan membingungkan. Kita bisa merencanakan apapun sebebas yang kita mau, namun hidup tidak selalu tentang apa yang kita ingin, tapi selalu tentang apa yang kita butuh namun kita tidak tahu. Hari ini adalah hari terakhir dibulan September, setelah sejak awal bulan ini dimulai, banyak berita bahagia dari teman yang sampai kerumah saya, sebab menurut perhitungan orang tua yang entah bagaimana cara menghitungnya, katanya, bulan ini adalah bulan yang baik untuk mengadakan perayaan, dan ternyata banyak teman-teman saya mengamini hal itu, buktinya adalah hingga kemarin total sudah ada 12 undangan perayaan bahagia dari teman-teman yang saya terima dibulan September ini, 11 undangan pernikahan, dan 1 undangan lamaran.


Sungguh jalannya waktu tidak ada yang tahu, Ah.. rasanya kalimat ini amat sering saya tulis, jika kalian tidak percaya coba saja telusuri postingan-postingan saya, nyatanya saya memang selalu takjub dengan apa-apa yang dibawa oleh waktu, ke 12 undangan yang saya terima berasal dari teman jaman SD hingga berasal dari teman yang baru kenal beberapa bulan lalu. Saya turut bahagia, pun tidak menyangka, sebab ada beberapa diantaranya yang terlalu mengejutkan kabarnya, seperti tentang si A yang sudah lama tidak saya dengar kabarnya, kemudian tetiba mengetuk pintu rumah saya mengantarkan undangan pernikahannya, juga tentang si B yang saya tahu tidak pernah dekat dengan lawan jenis dan amat mejaga kesucian cintanya, tetiba tersebar kabar pernikahannya di sosial media, pun soal si C yang menikah dengan si D yang saya dan teman-teman lainnya tahu bahwa sejak kami masih berada di masa putih abu-abu dulu mereka tidak saling kenal, amat jauh, bahkan diluar prediksi kami, tidak terbayang sama sekali, entah bagaimana alurnya, mereka mengabarkan hari bahagianya.


Saya selalu kagum dengan segala rencana Allah yang dibawa oleh waktu, apapun itu, soal suka atau duka, kecewa atau bahagia, lara atau tawa, saya selalu senang memperhatikannya. Dan kini, perihal September, setelah banyak undangan saya terima dan hadiri, banyak berpose anggun bersama sepasang pengantin dipelaminan, menebar banyak ucap selamat berbahagia, dan saling bertukar doa tentang siapa yang akan lebih dulu menyusul dari siapa, kini.. September mau tidak mau harus saya akhiri dengan kabar duka yang datang dari teman jaman SMK, yang kami semua tahu, dia memang baik-baik saja, tengah bekerja dan merantau dikota seperti teman lainnya, hanya bertukar sapa dan canda melalui sosial media, namun sepekan lalu dia dikabarkan koma karena kecelakaan yang dialaminya, dan hari ini tepat di hari terakhir September, dia menghembuskan nafas terakhirnya.


Lagi-lagi, saya selalu takjub dengan apa-apa yang dibawa oleh waktu, setelah 29 hari kemarin saya lalui dengan bahagia sebab menerima kabar perayaan cinta dari teman-teman lama, ternyata bulan ini mau tidak mau harus saya tutup dengan duka. Sungguh soal takdir, siapa yang tahu?
Bahagia dan berduka sungguh kontras adanya, dan benar kiranya bahwa bahagia dan sedih jaraknya hanya setipis benang saja. Seperti yang sudah saya tulis diawal, kita bisa merencanakan apapun sebebas yang kita mau, namun ada yang harus kita sadari, siapalah sesungguhnya diri ini? hanya wayang di bumi-Nya, harus patuh pada apapun yang diingin-Nya, bisa jadi saat kita bahagia, disaat yang sama, dibumi bagian lain ada yang sedang dibuat terluka oleh-Nya, pun sebaliknya.


Dan kemudian, kini saya penasaran, undangan apa yang akan saya sebarkan lebih dulu kepada kalian, tentang perayaan cinta yang membahagiakan, atau tentang kabar duka yang menyakitkan? tentang saya yang akan segera menjalani hidup baru, atau berhenti menjalani hidup? Wallahualam bishowab.
Apapun itu, terimakasih Allah untuk September-Mu.

Photo: Doc. Pribadi



Haurgeulis, di penghujung September.
Nita Bonita Rahman

Sunday, 25 September 2016

Ada yang Harus Dipaksakan

Kau bisa saja datang,
Aku suka rela menerima,
Kita tidak canggung bertukar canda.

Kau bisa saja hadir,
Aku senang hati menyambut,
Kita terbuai harapan lembut.

Kita suka rela tertawa,
Kita senang hati berharap,
Tidak sesiapun memaksa siapa.

Tapi ada yang harus kita paksakan,
Segala yang belum waktunya dirasakan,
Semua yang belum saatnya dilakukan.

Ada yang harus dipaksakan,
Sebab Tuhan meminta kita mencari alasan,
Untuk apa sesungguhnya kita menaruh harap dan balasan?



Haurgeulis, Minggu Ba'da subuh.
Nita Bonita Rahman.

Tuesday, 20 September 2016

Jangan Jadikan Aku Istrimu

Juli  2015 lalu, saya pernah memposting tulisan serupa dengan yang akan saya posting kali ini, bisa dibaca di: http://coretansinita.blogspot.co.id/2015/07/jangan-pilih-aku-jadi-istrimu-jika.html , tapi kali ini yang akan saya post lebih rinci. Masih tentang suara perempuan yang butuh didengar. Selamat diresapi.  

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain. Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas, wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurna pun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menyatakan cerai padaku. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku. Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu. Dan jika boleh memilih, aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku. Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku. Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata. Tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu, dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku. Karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku, sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu, kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata di hadapanmu dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu. Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku, dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah. Kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku, untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Dan tak ingin apa yang disebut “kewajiban” membuatku terisolasi dari pergaulan, ketika aku semakin disibukkan dengan urusan rumah tangga. Menikah bukan untuk menghapus identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.

Jangan buru-buru menikahiku, jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku. Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.

Jangan buru-buru menikahiku, jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan. Aku tak akan keberatan membetulkan genting rumah, dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir mempunyai lebih dari satu istri tidak menyalahi ajaran agama. Agama memang tidak melarangnya, tapi aku melarangmu menikahiku jika ternyata kamu hanya mengikuti egomu sebagai laki-laki yang tak bisa hidup dengan satu perempuan saja.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir menikahiku akan menyempurnakan separuh akidahmu sedang kamu enggan menimba ilmu untuk itu. Ilmuku tak banyak untuk itu dan aku ingin kamu jadi imamku, seorang pemimpin yang tahu kemana membawa pengikutnya.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih ternyata mengkhianatiku.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Aku bukan gadis naif yang menunggu sang pangeran datang dan membawaku ke istana. Mimpi seperti itu terlalu menyesatkan, karena sempurna tidak akan pernah ada dalam kamus manusia dan aku bukan lagi seorang gadis yang mudah terpesona.

Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku.



Saya pikir yang tertulis diatas penting untuk di pahami, karena komitmen akan rapuh jika hanya beralaskan siapa yang harus lebih untung dari siapa, harusnya bisa lebih dimengerti bahwa komitmen adalah janji untuk saling melengkapi hingga lupa jika ada kekurangan pada masing-masing diri.

Semoga bermanfaat.

Saturday, 3 September 2016

Ada yang Baru Saja Berakhir

Ada yang baru saja berakhir...

Tetes hujan dari daun yang menguning di teras rumah,
Basah bunga di kebun tak berpenghuni,
Teduh awan yang berarak,
Sejuk hawa menguar.

Ada yang baru saja berakhir...

Ramai menghening,
Senyap membising,
Senyum pura-pura menyungging,
Isi kening tiba-tiba bergeming.

Ada yang baru saja berakhir...

Tanya hanya sekedar tanda,
Segala asa memudar makna,
Dari ada menuju tiada,

Nyatanya...

Kini...

Tak ada kita untuk kita.


Haurgeulis, saat pagi masih terlalu pagi untuk berpuisi.
Nita Bonita Rahman