Tuesday, 29 November 2016

Jangan-jangan

Jangan-jangan,

Kita semua tidak pernah paham hakikat kecantikan
Karena di mana-mana, industri komestik, industri artifisial
Dan orang-orang di sekitar kita, terlalu sibuk menciptakannya
Mengabaikan begitu banyak kecantikan sejati di sekitar

Jangan-jangan,

Kita semua tidak pernah paham hakikat pendidikan
Karena di mana-mana, sekolah, universitas
Dan orang-orang di sekitar kita, terlalu sibuk memberi nilai, pun mengejar ijasah
Lupa orang-orang dulu tidak punya selembar ijasah
Tapi ilmunya menerangi dunia hingga hari ini

Jangan-jangan,

Kita semua tidak pernah paham hakikat politik
Karena di mana-mana, partai, penguasa, kader
Dan orang-orang di sekitar kita, terlalu sibuk mengejar kekuasaan
Menang, menang dan menang
Lupa, meskipun kalah, politik tetap bisa mulia dan bermanfaat

Jangan-jangan,

Kita semua tidak pernah paham hakikat cinta
Karena di mana-mana, buku, film, kisah-kisah
Dan orang-orang di sekitar kita, terlalu sibuk berbunga-bunga indah bicara cinta
Lupa, cinta sejati baru terbukti justeru saat kesedihan dan beban hidup datang
Kasih sayang sesungguhnya terbukti ketika kepercayaan dan komitmen sedang diuji

Jangan-jangan,

Kita semua tidak pernah paham hakikat kerja keras
Karena di mana-mana, di mana-mana, kita lebih suka jalan pintas
Ingin cepat, kalau bisa besok pagi sudah kaya, sudah terkenal
Lupa, bahwa sesuatu yang mudah datangnya, akan mudah pula perginya

Jangan-jangan,

Kita semua tidak pernah paham hakikat waktu
Karena di mana-mana, semua orang bersantai dengan gagdetnya
Sibuk dengan keajaiban teknologi
Dan kita melupakan, sebagian besar waktu kita terbuang sia-sia
Lupa berhitung dan semua sudah terlanjur pergi

Inilah puisi jangan-jangan
Akan panjang sekali daftarnya jika diteruskan,
Maka sungguh tidak akan pernah merugi
Orang-orang yang selalu menghisab dirinya setiap hari.



- Tere Liye -

Wednesday, 16 November 2016

Jika Aku adalah Cerminmu

Banyak orang kata, aku adalah cermin dari siapa yang selama ini kusebut "kamu", meski Tuhan belum juga memberi kita temu, namun katanya, bagaimana sosok kamu, adalah persis seperti yang selama ini ada padaku.

Dan sejak tahu hal itu, aku dirundung cemas, khawatir bila ternyata kamu justru enggan ditakdirkan memiliki cermin serupaku, karena bagaimanalah mungkin kamu berkenan disamakan sepertiku yang bahkan hanya dalam sepekan saja bisa banyak orang yang kumintai maafnya tersebab segala sifatku yang begitu berantakan telah mengganggu kenyamanannya.

Siapa pula yang sudi bercermin pada aku yang amat pelupa, begitu teledor, cenderung sembrono, mudah panik, dan sangat menyebalkan ini? Tapi bodohnya, aku berharap kamu adalah siapa yang selalu senang hati memaklumi.

Huh, Mimpi!

Harusnya aku mengerti, bahwa jika aku terus meminta untuk dimaklumi, selamanya aku akan menjadi manusia paling tidak tahu diri.

Harusnya aku tidak lupa, bahwa guna cermin adalah untuk melihat kekurangan  yang luput dari pandangan kita, bukan justru memaksa orang lain menerima ketidaknyamanan yang mengganggu pandangan mereka.

Maka perlahan aku mulai sadar, jika memang aku adalah cerminmu, bukan berarti kita adalah dua orang yang susah dibedakan sifat atau parasnya, lebih dari itu, justru aku mencoba menanggapinya dengan hal yang berbeda. Jika aku memang cerminmu, setiap kamu melihatku, harusnya aku membuatmu ingin merapihkan apa yang kamu lihat dihadapanmu, merapihkan yang berantakan dipandanganmu, merapihkanku.

Jadi, jika memang aku adalah cerminmu, sudikah kamu merapihkan yang terlihat berantakan pada aku?

- Nita Bonita Rahman -

Friday, 11 November 2016

Satu Langkah di Belakangmu

Orang bijak bilang, hidup adalah perjalanan, dan perjalanan yang menyenangkan sepatutnya tidak dilakukan sendirian, jika aku boleh berkhayal nantinya Tuhan memintaku menjadi teman perjalananmu, ada yang harus kamu tahu.

Kelak, aku tidak berminat berjalan mendahuluimu, dengan jumawa berada didepanmu, membuatmu merasa tertinggal walau hanya selangkah.

Tidak pula aku berhasrat untuk berjalan beriringan denganmu, melangkah dengan terus menggandeng manja, meminta langkahmu yang tegap mengimbangi gerakku yang lamban. Tidak akan.

Aku lebih memilih untuk selalu membiarkanmu berjalan lebih dulu, memandangi punggung tegapmu, memperhatikanmu dari sisi yang tidak kamu tahu. Bukan karena aku enggan menjadi teman perjalanan yang baik, aku hanya ingin memastikan, jika nantinya kau merasa segala beban begitu berat untuk kau emban, hanya aku yang akan kau temui saat kamu memilih menyerah dan berbalik arah, hanya senyumku yang akan kau temui saat kau butuh di semangati, hingga akhirnya kau lupa pernah ingin berhenti.

Jika Tuhan memintaku menjadi teman perjalananmu, kau benar-benar harus tahu, aku akan memilih terus berjalan dibelakangmu, mempersilahkanmu untuk menunjukkan jalan untukku, bukan karena aku buta arah, pun bukan karena aku tak tahu kita harus kemana, aku hanya ingin membuatmu selalu merasa kubutuhkan, membuatmu merasa bahwa jalan manapun yang akan kau putuskan, aku tak pernah takut kau akan menyesatkan, dari balik punggungmu aku percaya bahwa sejauh apapun perjalanannya, hanya langkahmu yang bisa membawaku pada tujuan yang ku damba. Itu saja.

Lalu, jika kau tanya siapa yang akan terus disampingmu, mendampingi langkahmu, berjaga di kiri dan kananmu? adalah sepasang kekasih yang begitu mengenalmu lebih dari aku, sepasang bibir yang tak lelah merapal doa keselamatan untukmu, kuserahkan posisi itu pada Ibu dan Ayahmu.

Jika Tuhan memintaku menjadi teman perjalanannu, biar aku terus berjalan satu langkah di belakangmu.

- Nita Bonita Rahman -

Photo by: @djonadoel

Tuesday, 8 November 2016

Perihal Definisi Kata Sederhana

Kasih, sebelum Tuhan benar-benar setuju pada doa-doa kita, sambil menunggu segala jawab yang entah kapan datangnya, izinkanku kenalkanmu pada sedikit definisi dari kata "sederhana" yang kupunya.

Misalnya...

Kelak tidak usah repot mengajakku berkeliling Indonesia dengan kendaraan pribadi terbaik yang kamu punya, meski kamu bilang itu hanya hal sederhana, bagiku tidak, aku lebih suka duduk disampingmu dalam gerbong kereta yang membawa kita menuju rumah ibu yang sudah membesarkanmu dengan penuh cinta.

Atau, nanti, saat kukatakan aku lapar atau butuh camilan, tak usah kau repot mengajakku ke tempat makan ternama di kota, meski bagimu itu sederhana, untukku tidak, sebab aku akan pusing dengan nama-nama makanan yang ada pada daftar menu diatas meja, aku lebih suka duduk diteras rumah bersamamu dengan menyesap teh tubruk manis yang kurebus dari panci yang kita beli saat kita mengisi perabotan rumah sambil mengunyah singkong rebus yang kubeli dari tetangga yang memanen hasil kebunnya kemarin lusa.

Kasih, mari kita samakan persepsi, perihal definisi kata "sederhana" yang selama ini kuyakini, agar kelak kita satu visi tentang bahagia yang sejauh ini masih hanya mimpi, meski aku tak tahu pasti siapa sesungguhnya kamu yang kuajak berdialog sedari tadi.

Akhirnya, di malam yang sejuk ini, izinkan kumenyampaikan salam dari singkong rebus yang dimasak ibuku sore tadi. Katanya, selamat malam untukmu yang belum juga Tuhan sebut pasti.