Thursday, 23 November 2017

Sal..

Sal, saya harap kamu punya waktu untuk sebentar saja membaca ini, sebab saya sengaja menulis ini untuk kamu, bermaksud mengurai gelisah yang tidak bisa saya tanggung sendiri, dan tidak tahu harus di apakan.

Sal, besok kita akan menikah, kamu akan mengucap ijab kobul, menerima penyerahan diri saya dari bapak, dan hari ini adalah hari terakhir mamah dan bapak bertanggung jawab atas diri saya.

Sal, sejak mengerti bahwa perihal agama tidak bisa saya genapkan sendiri, saya selalu mencari tahu apa-apa saja yang Allah suka, dan saya selalu berharap kelak saya menemukan laki-laki yang bisa lebih membuat Allah suka pada saya, dan sejak saya lihat kamu enggan menyentuh tangan ibu saya saat bersalaman di kali pertama kamu bertamu dan kita bertemu,  saya yakin kamu orangnya.

Sal, Kita sudah memilih untuk saling menetap, nanti akan ada banyak hal yang tidak pernah kita temui sebelumnya, seperti saat kamu bangun pagi, misalnya...

Nanti, saya adalah manusia pertama yang kamu lihat saat kamu membuka mata, perempuan pertama yang kamu temui saat kamu memulai hari, wajah kusut kita akan saling bertemu.

Atau barangkali nanti saya terbangun lebih dulu sebelum kamu, saya akan memperhatikan wajah tidurmu, menyimak dengan seksama wajah laki-laki asing yang telah berani-beraninya meminta bapak saya untuk menyerahkan salah satu putri kesayangannya, saya akan membangunkanmu lembut, mengusap matamu yang masih malas untuk dibuka, meminta segera memenuhi panggilan adzan dari masjid di tengah komplek rumah kita, dan saya akan memasak air panas untuk mandi dan teh pagimu, mempersiapkan bekal kerjamu setelah tilawah beberapa halaman Qur'an.

Dan.. Sal, kamu harus tahu, malam ini hati saya dipenuhi banyak harap tentang besok dan selamanya, semoga, 10 tahun lagi dan selamanya setelah ijab dan qobul itu terjadi, kamu tidak menemukan alasan untuk menyesal telah menikahi gadis serupa saya esok pagi, dan saya yang barangkali saat itu berdaster dan bermuka kusut selepas tidur selalu menjadi alasan kamu bahagia, setiap hari.





Untuk: Calon suamiku, Faishal.

Indramayu, 26 Augustus 2017. Satu malam sebelum akad.

Nita Bonita Rahman

Tuesday, 31 October 2017

Sakinah hingga ke Jannah

Berjalan dua bulan sudah saya menyandang status seorang istri, dan selama itu pula rasanya menjadi orang pertama yang kamu pandang setiap pagi dan orang terakhir yang kamu lihat sebelum kamu terlelap membuat rasa syukur saya pada Tuhan tidak habis-habis, dan ucap terimakasih saya tak usai-usai.

Kadang saya berpikir, kebaikan apa sesungguhnya yang telah saya lakukan hingga Tuhan menghadiahi saya laki-laki serupa kamu? Laki-laki asing yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya akan menjadi orang pertama yang saya temui saat memulai hari, yang membangunkan tidur saya dengan mendaratkan ciuman pada kening setiap pagi.

Saya selalu ingin mendefinisi semua perasaan yang saya miliki pada kamu, tapi saya selalu merasa gagal menemukan diksi terbaik untuk mengurai rasa perihal kita berdua, kamu juga membuat saya lupa cara menulis, bersama kamu, saya lebih ingin menikmati semuanya tanpa menjelaskan apa-apa kepada siapa-siapa.

Saya pikir, menikah adalah jatuh cinta dengan serius, saling memberikan cinta dengan biasa saja, tapi ternyata jantung saya tetap berdegup gugup saat kamu genggam tangan saya pertama kali usai akad, barangkali persis rasanya seperti seorang remaja yang tidak sengaja berpapasan dengan pujaan hati di lorong kelas, tidak tahu harus berbuat apa selain tersenyum lugu.

Sebelum ditemukan oleh kamu, saya sempat membuang banyak perasaan yang saya rasa tidak -barangkali belum- terlalu penting untuk disimpan saat itu, saya mengabaikan banyak hal, seperti bagaimana rasanya menanti di jemput kencan, misalnya. Saya lupa harus apa. Maka aneh rasanya saat kamu nenulis pesan "Pukul 5 sore saya sampai rumah, kita keluar ya". Dan setelah membacanya, saya sudah bersiap diri sejak satu jam sebelum kamu tiba. Barangkali ini rasanya gugup remaja kencan pertama.

Tapi saya juga tidak akan tutupi bahwa cerita kita memang tidak selalu indah-indah saja, di minggu-minggu pertama  berada di satu atap yang sama dengan kamu, dan berdua saja, rasanya serba kikuk, saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk kamu, tapi sayangnya saya lebih sering tidak mampu, karena memang ceroboh, selalu ada saja kekacauan yang saya lakukan, salah cara saat memijit pasta gigi, misalnya. Kamu lebih suka memijitnya dari bagian bawah agar rapih, tapi saya lebih sering lupa memijitnya sembarangan.

Menjalani hidup baru di tempat baru bersama seseorang yang baru bagi saya bukan hal yang mudah jika tanpa kepercayaan penuh,  kamu jadi satu-satunya orang yang saya nanti setiap hari, menikah dengan kamu membuat saya akrab dengan perasaan-perasaan baru, seperti rasa sedih dan sepinya setiap melepas kamu bekerja setiap pagi dari balik pintu, dan bagaimana senang dan tidak sabarnya menanti kamu pulang setiap malam. Sebelum bersama kamu, saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya itu semua, bahkan membayangkanpun tidak pernah. Ditambah lagi, setiap harinya pikiran saya di penuhi pertanyaan "hari ini harus masak apa?".

Ya, barangkali benar jika para tamu undangan di pernikahan mengatakan "Selamat menempuh hidup baru", saya memang benar-benar merasakan banyak perasaan baru, kegiatan-kegiatan baru, pengalaman-pengalaman baru.  Kita bisa saling kenal dan memahami satu sama lain hanya dari hal sesepele memilih perabot rumah tangga, kamu senang warna biru, sedang saya lebih dominan memilih barang dengan warna-warna mocca, tapi akhirnya kita berdua saling mengalah dengan melihat seberfungsi apa barang yang kita pilih di dalam rumah kita. Dari hal itu saya belajar, bahwa kita adalah sepasang manusia dari dua pikir yang berbeda, tapi akan saling mereda ego masing-masing demi tujuan yang sama, adalah Sakinah, hingga ke Jannah.


Karawang, bulan ke dua pernikahan.
Nita Bonita Rahman

Thursday, 28 September 2017

Kemana Agustus?

Saya akui saya telah melanggar komitmen yang saya buat, saat awal tahun saya bertekad bahwa selama tahun 2017 ini saya akan melakukan "one month one post" di blog, apapun itu contentnya, puisi, kalimat-kalimat absurd, quote-quote dari novel yang saya baca atau caption-caption bagus di IG, apapun, yang penting minimal selama satu bulan ada yang saya posting di blog saya ini. Tapi di bulan Agustus kemarin, saya gagal karena alasan yang saya juga bingung kenapa. Jika alasan sibuk oleh rutinitas kerja, rasanya tidak, karena sejak awal bulan Agustus saya memutuskan untuk resign.

Beberapa bulan ini gairah menulis saya amburadul, setiap saya ingin sekali menulis, kemudian membuka note, saya selalu bingung akan menulis apa, jika memutuskan untuk tidak menulis, dalam pikiran saya meledak banyak kata-kata. Saya dibuat bingung oleh diri saya sendiri.

Jika di selidiki apa sebab kekacauan yang ada pada diri saya beberapa bulan ini, barangkali terlalu nervous adalah jawabannya? Bisa jadi.

Pada bulan Agustus lalu, di satu hari sebelum tanggal yang sama dengan saat saya memosting tulisan ini, ada keputusan besar yang saya buat. Menikah. 27 Agustus 2017.

Benar, kalian tidak salah baca sama sekali. Genap 1 bulan sudah saya menyandang status baru, sekarang saya adalah seorang istri dari seorang laki-laki yang beberapa bulan terakhir menjadi tokoh utama dari setiap bimbang yang saya tuang dalam diksi yang saya pilih, dia adalah alasan dari setiap sendu yang saya utarakan malu-malu di setiap bait puisi yang saya tulis.

Sebelum sampai pada hari ini, pernah saya tulis tentang hening yang menyesakkan, sepi yang begitu mengganggu, suara detik jarum jam yang memuakkan, kalender duduk di meja kerja yang saya perhatikan hingga bosan. Kesemua itu adalah tersebab satu alasan, ialah perihal keputusan besar dalam hidup untuk menetap pada satu hati, jatuh cinta pada orang yang sama dalam waktu yang lama, keputusan menggenapkan separuh agama.

Satu bulan sudah, duhai, setelah kalimat ijab qabul itu lancar dia ucap, segala rindu yang dahulu terbelenggu seakan menjelma kupu-kupu yang bertebaran di dalam perut setiap detik, setiap hari!

Perihal resignnya saya dari tempat kerja, adalah karena beberapa hari sebelum hari H pernikahan kami, banyak sekali yang harus saya urus, dan rasanya akan sangat tidak sopan jika saya terlalu sering meminta izin untuk meninggalkan pekerjaan, maka resign adalah pilihan terbaik.

Dulu, saat saya mulai sadar bahwa kelak suatu hari saya akan menikah, meski belum tahu bersama siapa, saya senang merencanakan banyak hal, maka coba kalian tebak bagaimana rasanya saat segala yang sudah kalian rencanakan sejak lama itu akan segera terealisasi! Senang? Tentu! Tapi ternyata, semua tidak sebahagia yang saya pikir, ada sedih yang lebih dominan mengganggu perasaan, entah kenapa semakin dekat dengan hari H, justru saya merasa semakin sedih, bahkan pada H-1 saya menangis sendu sesendu-sendunya.

Sedikit cerita, saya dan suami tidak pacaran sebelumnya, kami di kenalkan oleh salah seorang teman yang kebetulan saya kenal baik, dia adalah teman seangkatan jaman SMK dulu, saya tahu bagaimana si teman itu, menurut saya dia bukan tipe teman yang banyak tingkah, dia tergolong teman yang "lurus", itulah sebab kenapa saat dia mengatakan ada seorang temannya yang ingin mengenal saya, saya yakin dia orang baik-baik karena dibawa oleh orang yang juga baik-baik, insyaallah. Itu husnudzon saya yang pertama kali pada dia yang kini menjadi suami saya. Perkenalan kami cukup lama sejak bulan April tahun 2016, dan baru bisa nadzor (bertemu dan bertamu) pada bulan Desember 2016 karena jarak (kami berbeda kota) dan pekerjaannya yang belum ada waktu senggang untuk libur, diantara April hingga Desember itu saya benar-benar bergulat dengan banyak perasaan, utamanya perihal harapan-harapan yang belum semestinya ada, karena saya tidak ingin munafik bahwa saya hanya perempuan biasa, meski sejak awal saya selalu meyakinkan diri untuk tidak berharap pada selain Allah, kadang iman saya yang mudah goyah ini sering membuat sendu suasana, maka bukan hal yang mudah buat saya meyakinkan diri selama April hingga Desember itu.

Singkat cerita setelah meyakinkan diri dan meminta kejelasan maksud dari perkenalan yang dilakukan selama beberapa bulan itu, akhirnya Allah meridhoi kami nadzor, dia datang kerumah bersama teman saya, bertemu saya untuk pertama kali dan juga orangtua saya.

Beberapa hari setelah nadzor dia menanyakan kelanjutan proses perkenalan kami, dia cocok, saya meminta izin kepada orangtua saya untuk melanjutkan proses perkenalan, dan kami terus melanjutkan hingga bulan Februari dia kembali datang ke rumah, seorang diri, demi menyampaikan maksud melamar saya kepada bapak. Jika di izinkan, dia akan kembali bersama keluarganya. Dan yaa seperti yang kalian tahu, Alhamdulillah bapak saya mengizinkan, namun karena kesibukan kerja yang begitu padat, acara khitbah/lamaran resmi baru bisa di adakan pada bulan Mei 2017. Bulan demi bulan berlalu, tibalah pada acara lamaran, hari itu tanggal 20 Mei 2017, sejak hari dimulai, jantung saya berdegup tidak karuan, ada nervous yang susah sekali saya kendalikan, hari itu saya memutuskan untuk tetap masuk kerja, teman-teman kerja belum ada yang tahu perihal rencana saya akan di lamar hari itu, sebab hawatir karena semua belum pasti, maka sejak awal kami berkenalan, saya merahasiakannya dari banyak teman, jadilah segala ketegangan saya sembunyikan rapat-rapat.

Setelah menunggu begitu lama kedatangan dia dan keluarganya dari Bandung menuju Indramayu yang cukup memakan waktu, akhirnya detik itu tiba, seorang ibu paruh baya melingkarkan cincin di jari manis kiri saya, saya tertunduk malu-malu di hadapan sanak saudara, hari itu saya di ikat dengan komitmen hingga akad.

Setelah cincin terpasang, penetuan tanggal walimah di rembukkan, setelah melalui banyak pertimbangan, diputuskanlah tanggal 27 Agustus 2017 sebagai hari dimana ikrar suci itu di ucapkan. Walimah.

Sampailah pada hari itu, Ahad, 27 Agustus 2017, satu detik setelah ijab qabul selesai diucap, banyak hal dalam hidup kami yang tidak sama seperti hari kemarin lagi.

Tidak ada lagi rindu yang harus dipendam, tidak ada lagi sendu yang akan tiba-tiba datang, tidak ada lagi detik jam yang akan terasa menyesakkan, sebab semua penantian telah berakhir.

Dan satu detik setelah janji suci itu terucap, ada yang baru saja kami mulai, ada surga yang berpindah tempat, ada sentuh kali pertama, ada debar yang tak terdefinisi, ada linang haru para tetamu, ada cinta yang baru saja jatuh.

Terhitung hanya empat kali kami bertemu, dan ke empat-empatnya tidak pernah ada yang lebih dari 3 jam, pun tidak ada yang tanpa didampingi orangtua saya, maka rasanya wajar jika satu malam sebelum walimah di gelar, saya diserang gugup yang terlalu, banyak sekali hal yang memenuhi isi kepala, sebab esok harinya adalah pertemuan kami yang ke lima, sekaligus pertemuan kami untuk saling menetap lama.

Dan setelah hubungan kami resmi di akui oleh negara dan agama, ada banyak tugas baru yang saya emban, ialah: segala yang ada pada diri saya harus selalu menyenangkan pandangannya, menentramkam hatinya, dan harus selalu mampu membuat dia menjatuhi cintanya.

Selain perihal kewajiban-kewajiban saya, jauhnya jarak saya dengan orangtua kelak setelah menikah, karena saya harus mendampingi suami kemanapun dia, ternyata amat mengganggu pikiran saya, menjadi manusia yang selama 22 tahun selalu di atas tanah Indramayu, belum pernah merantau, merasa tentram hidup berdekatan dengan orang tua dan keluarga, hafal mati jalanan yang harus dilewati hingga ke gang-gang sempit, kemudian tiba-tiba saja ada pemuda asing yang mengajak pergi, mengajak hidup bersama di kota yang belum pernah di kunjungi sebelumnya, jauh dari orang tua dan sanak saudara, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan selama 22 tahun untuk hidup bersama "orang asing" di tempat yang asing seumur hidup, meninggalkan hal-hal menyenangkan di kampung halaman untuk ikut kemanapun suami pergi, mengabdi padanya hingga nafas tidak lagi berhembus, melayaninya hingga degup jantung tak lagi terasa, di sampingnya seumur hidup. Apa kalian bisa bayangkan apa yang saya rasakan di malam sebelun walimah di gelar? Demikianlah.

Tapi, teman, saya menulis ini bukan sebab saya tidak bahagia, ah, andai saya tahu kalimat paling indah untuk mendefinisi perasaan saya, akan saya tulis sejak awal saya menulis postingan ini. Saya menuang perasaan saya di sini hanya demi memelihara kenangan sebelum kami saling menggenapkan, mengilas balik segala rasa yang tidak banyak saya jelaskan pada orang lain.

Saya bahagia, seperti yang saya bilang di awal, setelah kami halal untuk saling mencintai, rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut setiap detik, setiap hari. Tapi saya paham betul, dalam pernikahan tidak hanya hal-hal indah yang akan kami temui. Setelah satu bulan bersama, saya mulai akrab dengan suara dengkur tidurnya, dengan wajah kusut kita yang saling bertemu setiap bangun dari lelap, dengan banyak hal-hal baru yang absurd sekaligus menyenangkan yang saya temui setelah menikah (nanti saya bahas di postingan selanjutnya saja ya. Barangkali kepanjangan hehe) 

Kini sebulan sudah saya menggenapkan iman, jika boleh memilih, saya ingin hidup bersama orangtua di tanah kelahiran selamanya, tidak meninggalkan teman-teman, dan tidak perlu repot-repot menyesuaikan diri di tempat baru, tapi saya juga sadar bahwa umur akan semakin habis, saya tidak selamanya menjadi anak kecil, ada Dien yang harus di genapkan, ada ridho Allah yang harus saya raih tidak dengan seorang diri. Maka saya menikah, menyempurnakan separuh agama yang barangkali separuhnya lagi masih sangat compang-camping, mengorbankan banyak hal dan perasaan demi nencari ridho Allah, menemukan ketentraman yang tidak bisa saya dapat dengan cara selain menikah.

Begitulah teman-teman, semoga dapat dimaklum kenapa saya "bolos" nulis bulan kemarin, kini saya harap kalian berkenan mendoakan saya dan suami agar mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah dari Allah, doakan kami terus istiqomah di jalan yang Allah mau, dan menjadi pasangan yang Allah suka. Sebab Dia adalah alasan atas segala keputusan yang kami ambil. Saya harap teman-teman berkenan mendoakan.


Begitulah, sekali lagi mohon dimaklum. Salam baper.



Karawang, 28 September 2017. Hari ke 32 pernikahan.

Friday, 28 July 2017

H-30

Aku kau temui
tanpa basa-basi
Aku menyanggupi
Dengan tahu diri

Bersamamu aku menggenap
Di sampingmu aku menetap
Aku dan kamu, mengharap Ridho Allah di bawah satu atap.


Haurgeulis, 28 Juli 2017.

Friday, 30 June 2017

Untuk Seseorang yang Akan Saya Dampingi Hingga Menua

Sesungguhnya saya ingin menulis ini sejak lama, bahkan sejak salam dan sapa diantara kita belum berarti apa-apa, saya ingin bercerita soal kamu sejak lama, bahkan sejak belum tahu harapan kita akan berujung kemana.

Tapi saya rasa saat ini sudah waktunya, saat ini saya baru bisa menuliskannya. Setiap hari saya berusaha untuk terlihat tenang di hadapan siapapun yang saya temui, tapi nyatanya saya harus jujur bahwa saya selalu gagal terlihat biasa saja jika di hadapan kolom laman pribadi saya ini.

Dulu, saya pernah menulis tentang kamu, tentang segala gelisah yang saya rasa kepada kamu, padahal saat itu kita belum bertemu, nama dan rupamu seperti apapun, saya belum tahu.

Namun kini, Tuhan sudah menjelaskan semuanya, Dia membawa kamu ke hidup saya, jika dulu setiap saya tulis kata "Kamu", saya tidak mengingat raut wajah siapa-siapa, tapi dalam tulisan ini, setiap saya tulis kata "Kamu", wajah kamulah yang mengisinya.

Harus saya akui dan tidak bisa saya tutupi lagi, semua tentang kita berawal di ruang tamu rumah saya, disana ada   percakapan serius antara kamu dan bapak, ada doa-doa yang melantun dari paman-bibi serta sanak saudara, ada sentuh lembut tangan ibumu di jari manis kiri saya.

Benar sudah, dari sana, semuanya dimulai...

Selepas kamu bertamu waktu lalu, saya yang sejak dulu sudah gemar memperhatikan waktu ini, sekarang menjadi semakin gemar lagi.
Tapi kali ini, saya juga menjadi senang memperhatikan map, menulis nama kotamu tinggal di mesin pencari, berusaha menghapal seberapa jauh jarak diantara kita saat ini.

Sejak kamu datang ke hidup saya, banyak hal di hidup saya yang tidak sama seperti dulu lagi, bahkan hal sepele seperti menghirup wangi pagi dari jendela kamarpun bisa membuat saya senang, sebab berarti satu hari penantian sudah terlewati lagi, malam-malam penuh rindu berhasil saya bekukan lagi.

Sejak ruang tamu rumah saya kamu penuhi dengan atmosfer gugup juga haru waktu lalu, bukan hanya senyum saya yang mudah terkembang, bukan hanya hal-hal sepele yang tiba-tiba berubah menyenangkan, tapi bahkan kini untuk saya heningpun rasanya tidak pernah sama lagi.

Sejak dulu, memang hening bagi saya tidak pernah benar-benar hening, barangkali di sekitar saya memang hening, tapi pikir dan hati saya selalu bising. Namun, jika dulu dalam hening, pikir dan hati saya selalu berisik bertanya tentang kamu,  itu hanya perihal siapakah kamu sebenarnya dan kapan kiranya kita akan bersua, sekarang semua tanya berubah, sejak kamu beranjak dari ruang tamu rumah saya, kini pertanyaan dalam pikir saya lebih rumit lagi, setiap hening bukan lagi bertanya soal "siapa?" namun kini lebih sering bertanya tentang "bagaimana?".

Rasanya sering sekali saya tulis kalimat: Wanita adalah makhluk yang paling mudah cemas di bumi. Dalam hal apapun, wanita selalu begitu, padahal hasil belum diraih, tapi proses sudah cemasi.

Tentang kamu di hidup saya, tidak terlepas dari segala kecemasan itu, semua soal kamu sejak awal kamu datang hingga kepastian sudah kamu berikan, untuk saya, masih ada yang harus saya cemaskan.

Kini kita sedang menjalani proses demo menuju awal yang kita niatkan tidak akan pernah menemui akhir, dan dalam perjalanannya, saya senang, teramat senang bahkan, namun kadang sangking senangnya, saya bisa tiba-tiba saja menjadi gugup, jika sudah begitu, pikiran saya kemudian dipenuhi oleh banyak pertanyaan berawalan "Bagaimana?", padahal untuk saya, tentang kita hingga hari ini sudah teramat jauh.

Seperti misalnya saat kita sedang berdialog dengan diselingi candaan gila untuk membangun keakraban yang tidak kita dapat dari proses yang dilakukan pasangan kebanyakan, tiba-tiba saja, tanpa kamu tahu, saya disini, di hadapan layar smartphone dibuat gugup oleh pertanyaan yang tiba-tiba saja singgah, bagaimana jika kelak saat kita sudah bersama tanpa terhalang jarak,  ternyata saya yang akan mendampingi kamu hingga menua ini, menjadi teman berdialogmu yang membosankan? Bagaimana jika nanti kamu merasa gurauan saya itu-itu saja? Atau justru sebaliknya, bagaimana jika kamu merasa saya terlalu gila padahal kamu butuh didampingi oleh seorang wanita yang anggun?

Juga saat saya sedang ada waktu senggang dan memutuskan untuk mengisinya dengan bermain social media instagram, kemudian saya temui foto-foto wanita cantik nan modis khas gaya hidup kota metropolitan terposting di timeline akun IG saya, tiba-tiba pikiran saya dipenuhi oleh pertanyaan, bagaimana jika saya yang akan mendampingi kamu hingga menua ini, ternyata tidak bisa menyenangkan mata kamu, sedang selama ini, sebelum bertemu dengan saya, jutaan perempuan cantik di perkotaan sudah kamu lihat, tapi yang kamu pilih ternyata hanya seorang saya yang gadis kampung?

Pun kadang perntanyaan-pertanyaan tentang bagaimana kamu nanti terhadap saya bisa tiba-tiba muncul saat saya sedang berkumpul dengan teman-teman perempuan ataupun rekan kerja, terlebih saat mereka, disela-sela kami berbincang begitu sibuk dengan wajah yang harus mereka touch-up dengan make-up, begitu asyik saling bertanya tentang nomor warna lipstick dan merk bedak yang dipakai, sedangkan saya, perempuan yang akan mendampingi kamu hingga menua ini, memiliki bedakpun tidak, mengenal warnapun hanya bisa menyebutkan nama warna dasar, memiliki badan yang tidak berbau parfum mawar tapi lebih sering berbau minyak telon. Bagaimana kiranya saya akan bisa terlihat cantik di mata kamu? Pertanyaan-pertanyaan itu bisa tiba-tiba datang tanpa saya duga.

Atau, seperti pada percakapan kita belum lama ini, saat itu kamu, mengeluhkan warna celana yang sudah kamu pesan pada salah satu toko online ternyata tidak sesuai dengan yang kamu harap, kamu sedikit uring-uringan karena tidak sreg memakainya, tiba-tiba sebuah pertanyaan begitu mengusik dipikiran saya, bagaimana jika kamu tahu bahwa saya yang akan mendampingi kamu hingga menua ini, hanya memikili baju yang bisa dihitung dengan jari, memiliki gamis yang itu-itu saja dengan jilbab yang tidak lebih banyak jumlahnya? Bahkan saat ada gamis saya yang bolong, saya lebih memilih menambalnya ketimbang membeli yang baru. Bagaimana kiranya kamu bisa menerima itu?

Belum lagi jika saya sedang iseng berselancar di facebook, lalu beranda saya dipenuhi dengan postingan foto-foto makanan yang membuat perut keroncongan saat melihatnya, tapi tiba-tiba menjadi gugup saat sadar yang memposting adalah teman-teman saya sendiri, dan semakin tidak karuan rasanya saat membaca caption dengan emotikon bahagia yang mereka tulis karena ternyata mereka berhasil membuat orang-orang terdekat mereka makan dengan lahap dari hasil tangan mereka sendiri. Dan setelah ikut merasakan sedikit euforia kebahagiaan mereka, saya dihantui pertanyaan: Bagaimana jika kamu tahu, bahwa wanita yang akan mendampingi kamu hingga menua ini hanya bisa memasak makanan model tumis-tumisan saja? Bagaimana jika kamu tahu saya selalu takut memasukkan bumbu? Bagaimana jika nanti masakan saya terasa hambar di lidah kamu? Bagaimana saya bisa membahagiakan kamu dengan tangan saya sendiri? Bagaimana?

Bagaimana?

Andai kamu tahu, saya selalu bisa tiba-tiba gugup menghadapi banyak hal jika dikaitkan dengan kamu, banyak sekali pertanyaan bermunculan yang tidak saya ungkap pada siapapun jika berkenaan dengan kamu. Banyak sekali pertanyaan berawalan "Bagaimana?" dari saya untuk kamu.

Kepada kamu yang akan saya dampingi hingga menua, mohon maafkan saya atas segala kegugupan ini, saya hanya cemas tidak mampu menyenangkan mata kamu dan mengenyangkan perut kamu, tapi saya paham satu hal, demi ridho Allah, saya berusaha menenangkan hati kamu. Saya harap kamu sabar dengan itu.

Indramayu, Malam di penghujung bulan Juni.

Created by: Nita Bonita Rahman

Saturday, 20 May 2017

Gugup

Apa kamu pernah, saat menghadapi sesuatu, telapak tangan terasa begitu dingin, jantung berdegup tidak keruan, keringat bercucuran, dan isi perut seperti melilit-lilit, padahal sebelumnya kamu begitu bersemangat?

Apa kamu pernah, saat akan melakukan sesuatu, bingung mana yang harus dikerjakan lebih dulu, lupa bagaimana memulainya, padahal sebelumnya kamu sudah menyusun rencana begitu rinci?

Apa kamu pernah, tiba-tiba menjadi senang menduga-duga banyak hal, mencerna banyak maksud, mencermati banyak perhitungan namun kesulitan memahami hal yang sudah dipastikan berkali-kali?


Aku, sedang.





Haurgeulis, 20 Mei 2017.

Thursday, 6 April 2017

4 Hari untuk 25 Tahun

Sepagi ini saya sudah duduk di pelataran rumah sakit, melihat perawat dan petugas keamanan berlalu lalang, memperhatikan banyak orang dengan keperluannya masing-masing, melihat anak kecil asik memainkan kursi roda yang entah terpakai entah tidak karena sudah dipenuhi banyak karat tapi masih bisa digunakan. Saya duduk di buk di bawah pohon depan ruang rawat inap  bukan sebab terlalu pagi datang untuk menjenguk atau ada keperluan ingin mendatangi dokter, tapi memang sudah 4 hari saya bermalam disini. Seminggu yang lalu Bapak saya sakit, setelah konsultasi dengan salah satu dokter di desa tempat kami tinggal, katanya, Bapak saya harus di operasi, dan 4 hari yang lalu operasi itu dilaksanakan. Saya tidak akan membahas perihal sakit yang bapak saya rasakan, saya hanya ingin mengurai kegelisahan saya selama "menginap" di sini.


Senyaman apapun sebuah rumah sakit, dia tetap rumah sakit, tempat orang-orang yang merasa amat kepayahan berharap tubuhnya bisa kembali lekas sehat seperti sedia kala, dan saya tidak pernah betah didalamnya. Namun rupanya Allah tengah ingin menguji seberapa kuat saya dan keluarga saya, dan apapun yang Allah mau tidak bisa kami tolak, dibanding terus mengeluh dan menggerutu, kami lebih memilih untuk merawat bapak sekuat dan sesabar yang kami mampu.


Rasanya tidak ada satupun orang di dunia ini yang ingin sakit, begitupun bapak, terlebih beliau adalah tulang punggung keluarga kami, jika boleh memilih beliau ingin selalu sehat, tapi seperti yang kita semua tahu, yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Entah ini musibah atau bukan, saya mencoba untuk melihat dari banyak sisi, mencerna banyak kegelisahan, dan kegelisahan yang akan saya bahas disini, adalah perihal Ibu saya.


Sejak bapak merasa dirinya begitu kesakitan dan tidak bisa melalukan banyak hal, Ibu saya yang akrab saya panggil Mamah, tidak luput barang sedetik memperhatikan bapak. Mamah begitu telaten dan cekatan mengurus semua hal yang bapak butuh. Dari keperluan yang sepele seperti hanya mengambilkan minum, hingga hal yang menurut saya berat (saya tidak bisa jelaskan disini). Mamah selalu menjadi yang paling tahu setiap ada orang bertanya perihal keadaan bapak, menjadi yang paling siap melakukan segala hal yang bapak butuh, menjadi yang paling mampu melakukan apapun yang tidak siapapun mampu untuk Bapak, yang paling rela tidak tidur semalaman demi memastikan bapak baik-baik saja, yang paling cerewet perihal kebersihan tubuh bapak, Mamah perempuan yang akan bapak cari saat sosoknya tidak ada di pandangannya.


Banyak orang yang berusaha menguatkan saya atas sakit yang menimpa bapak, katanya, semua pasti ada hikmahnya. Jika ini tidak terlalu dini untuk diebut hikmah, perihal segala yang Mamah lakukan selama bapak sakit, barangkali itu bisa saya sebut salah satu hikmah. Ilmu parenting dan perananan istri dalam rumah tangga. Saat saya berusaha mencari ilmu-ilmu tersebut dari banyak buku, ternyata Allah memberi saya Ilmu itu langsung dihadapan mata saya, kontan, dengan praktik, bukan cuma teori.


Dari yang mamah lakukan sejauh ini saat bapak sakit, saya bisa melihat ketulusan yang tidak dibuat-buat. Barangkali akan ada sebagian orang yang menganggap omong kosong perihal ketulusan, tapi saya bisa memastikan bahwa mereka yang keliru.


Mamah pernah bercerita tentang bagaimana beliau bisa menikah dengan Bapak dulu, Mamah bilang mereka tidak saling kenal sama sekali, tapi Bapak tahu mamah, hanya sekedar tahu, dan bapak tertarik. Kemudian bapak bicara perihal ketertarikannya pada seorang perempuan (Mamah) kepada keluarganya, kebetulan mereka bukan orang jauh, hanya berbeda desa, dan cukup saling mengenal. Singkat cerita, saat itu Mamah ada yang sedang mendekati, kemudian tiba-tiba bapak datang, kepada laki-laki yang lebih dulu mendekati Mamah, Ayah Mamah (Kakek) meminta ketegasan, ternyata Mamah diminta menunggu dan jikapun memang saat itu Mamah diberi kepastian oleh sang laki-laki, keluarga Mamah belum tahu perihal keluarga si pemuda karena dia adalah perantau, alih-alih mengindahkan ingin si pemuda, Kakek justru mengutus Kakak Mamah (paman saya) untuk mendatangi keluarga Bapak untuk segera melamar Mamah, padahal saat itu Mamah dan Bapak belum saling kenal, Mamah berniat melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi selepas SMA namun ternyata Allah lebih ridho Mamah dipersunting oleh Bapak, akhirnya Mamah menikah, dan melepaskan keinginan sekolahnya. Mamah manut. Sebab Mamah tahu, orangtuanya lebih tahu yang terbaik untuk dirinya.


Kini 25 tahun sudah usia pernikahan mereka, waktu sudah mengajarkan mereka banyak hal, termasuk kecenderungan diantara keduanya, meski awalnya tak saling kenal, kini justru Bapak adalah orang yang akan lebih dulu Mamah cari saat kebingungan, dan Mamah adalah perempuan yang Bapak datangi untuk melepas segala keresahan.


Bicara soal hikmah dari sakit Bapak saat ini, rasa saling kecenderungan mereka satu sama lain adalah hal yang harus saya pelajari, saya senang sekaligus gugup melihat mereka. Kelak, bisakah saya seperti Mamah yang selalu siap melakukan apapun yang Bapak butuh? akankah belaian lembut saya akan mampu menenangkan keresahan seseorang? Bisakah saya menjadi sekuat Mamah saat menerima segala kekurangan yang suaminya punya? 


Dan, ya, di awal tadi saya katakan saya sedang berada di pelataran Rumah sakit, bukan karena tidak ingin membantu Mamah merawat bapak di dalam, tapi memang saya diminta keluar saat dokter melakukan visit pasien, ruangan harus steril dan pasien hanya boleh ditunggu satu orang. Tanpa ba-bi-bu saya akan suka rela menunggu diluar karena saya tahu siapa yang lebih Bapak butuh, dan siapa yang harus selalu ada disamping ranjang sakitnya setiap waktu.


4 hari di Rumah Sakit tergambar semua proses panjang pernikahan mereka selama 25 tahun, waktu memang media terbaik untuk menyingkap banyak hal. Siapa yang sangka orang asing itu kini menjadi separuh dari jiwa Mamah, saya tidak akan pernah lupa bagaimana tangis sendu mamah di tengah malam saat Bapak merasa kesakitan, saya tidak akan pernah lupa bagaimana kacau pikiran Mamah membayangkan banyak kemungkinan, tidak luput juga saya ingat bagaimana raut panik Mamah mondar-mandir di lorong Rumah Sakit saat Bapak mulai masuk ruang operasi. Saya menyaksikan banyak hal selama 4 hari di Rumah Sakit, 4 hari untuk 25 tahun.


Dari sorot mata Mamah selama 4 hari ini saya belajar banyak hal meski tidak sepatahpun kata yang beliau ucap, bahwa demi kemungkinan terbaik yang kita ingin, mata harus rela terjaga semalaman. Genggam tangan Mamah mengurai banyak cerita, bahwa belainya harus menenangkan, kepalnya harus menguatkan, dan tengadahnya harus penuh keikhlasan.


Rasanya tulisan ini sudah terlalu panjang, kini biar saya akhiri dengan satu saja pertanyaan untuk kamu, siapapun laki-laki yang kelak akan saya dampingi suka dan dukanya, nanti, maukah kamu sabar untuk menjadikan saya perempuan satu-satunya yang akan selalu kamu cari saat kamu butuh ketenangan saat kesakitan?





Pagi, di sebuah pelataran salah satu Rumah Sakit daerah Indramayu.

*NBR.

Monday, 27 March 2017

Gaduh

Seorang teman bilang, katanya enak menjadi saya, resah sedikit tinggal tulis, gundah secuil tinggal buat cerita. Sayangnya dia belum benar-benar tahu, bahwa saya adalah tipe orang yang pemilih, dalam hal apapun, termasuk soal menulis, saya akui saya senang menulis banyak hal, tapi sayangnya tidak semua hal bisa saya tulis. Tentang kamu, misalnya.


Banyak kata yang saya coba susun menjadi kalimat yang manis untuk bercerita soal kamu, tapi rasanya saya selalu gagal, bahkan sebelum saya memulainya, saya akan menghapusnya. Sebab semua hal tentang kamu sudah saya putuskan untuk saya diamkan di salah satu ruang dalam hati, tidak saya biarkan seorangpun tahu perihal kamu, sebelum terucap janji itu, janji yang jika kamu ucap, Arasy Tuhan akan bergetar, dan saat doa kamu lantunkan, ribuan malaikat akan turut mengaminkan. Sakral.


Untuk saya, kamu dan segala cemas adalah satu paket, dan mendiamkan seperti tidak ada apa-apa adalah pilihan terbaik. Tapi kini saya harus mengaku bahwa saya salah mengira, saya pikir sunyi adalah tempat terbaik untuk menyimpan gundah, saya sangka hening adalah cara terbaik untuk menyamarkan resah, saya kira soal kamu memang hanya harus saya pendam dalam-dalam, namun ternyata saya luput menghitung perihal rindu, saya lupa jika rindu senang mengganggu, bahkan sekalipun saya tengah begadang dikejar deadline, atau  saat saya tengah ditegur pimpinan dalam sebuah pertemuan, rindu benar-benar amat mengganggu, dia selalu mampu membuat segala sesuatu menjadi amat sendu.


Barangkali bagi sebagian mereka yang belum paham mengapa saya memilih menyimpan soal kamu rapat-rapat adalah terlalu berlebihan, ceritakan sajalah, jangan menyiksa diri, katanya, atau ekstrimnya lagi ada yang beranggapan cara saya menanggapi keberadaan kamu sudah kuno. Kita berkenalan, saling jatuh hati, merindu, menanti, lalu apa lagi jika bukan saling berbalas perhatian dan simpati setiap hari? Di mata mereka harusnya begitu. Tapi tidak di mata Tuhan Yang Maha Tahu.


Baiklah, orang boleh bebas memberi pendapat, bahkan meski saya tidak memintanya. Tapi saya juga berhak memilih, bahkan meski pilihan itu menyiksa diri saya sendiri. Tapi perlu juga kamu ketahui, saya menulis ini bukan untuk mendebat pendapat siapapun, saya hanya ingin sedikit menenangkan segala gaduh yang selama ini hanya saya yang tahu. 


Jika disana kamu berpikir saya disini baik-baik saja, dengan sangat terpaksa saya harus katakan bahwa kamu salah besar. Apa yang kamu tahu setiap pagi tentang saya? Dengan kita yang berjarak sekian puluh kilometer jauhnya, barangkali kamu hanya tahu saya disini setiap pagi sebelum pukul tujuh sudah berada di tempat kerja setelah 5 menit  sebelumnya mengayuh sepedah dengan baik-baik saja, melintasi sawah, menikmati cuaca pagi yang cerah, dan ramah menyapa tetangga yang tengah berjalan-jalan pagi mencari sarapan, seperti yang pernah saya ceritakan. Tapi kamu tidak tahu, sesungguhnya sejak pagi dimulai, saya selalu melihat kalender, memperhatikan jam dinding, menghitung berapa lama lagi perjumpaan kita, juga tidak pernah luput memeriksa ponsel barangkali ada pesan darimu yang semalam tak sempat saya baca sebab saya sudah terlelap kelelahan, jika tidak ada, kamu juga harus tahu betapa sering saya berniat menghubungi kamu lebih dulu, bertanya bagaimana tidurmu malam tadi, adakah perihal saya bertandang dalam mimpi? Tapi tidak saya lakukan meski sekali, sebab ada komitmen yang kita berdua yakini, aturan Tuhan tidak bisa kita langgar, bahkan saat bayang senyummu tiba-tiba hadir di kepala, saya harus segera beristighfar.


Siang harinya, saat jam makan siang tiba, barangkali kamu juga berpikir saya disini baik-baik saja, telah usai ibadah, mencari angin di luar ruangan, atau makan siang dengan teman, dan kegiatan-kegiatan lain yang lumrah dilakukan siapapun saat jam makan siang. Tapi, tahukah? Sebagian yang kamu pikirkan mungkin memang benar saya lakukan, tapi apa kamu juga tahu bagaimana seringnya saya mengecek ponsel? Ponsel saya biarkan stand by di saku, sebab tak ingin terlalu lama menjawab jika barangkali tiba-tiba ada pesan dari kamu yang ingin bercerita bagaimana beratnya pekerjaan kamu hari itu atau sekedar basa basi berbincang perihal cuaca siang di tempatmu, jika tidak ada pesan dari kamu, tidak terhitung juga berapa kali saya berniat untuk mendahului menghubungi kamu, sekedar bertanya sudah makan siangkah kamu? Tapi urung saya lakukan, pertanyaan itu saya biarkan menggantung dalam pikiran. Siang itu kita lewati dengan tak saling bertegur sapa ataupun candaan. Jadilah segala aturan yang tidak ingin kita langgar, juga segala tanya tentang keadaan kamu, menjadi gaduh di dalam kepala, berebut mana yang harus saya pikirkan lebih dulu.


Pun saat jam pulang kerja tiba, entah apa yang kamu pikir tentang saya disana, barangkali kamu pikir saya sedang merapihkan meja, bersiap mengayuh sepeda dan pulang ke rumah, sayangnya, ternyata disini, saya masih duduk didepan layar komputer, terus bekerja, dengan pikiran yang bercabang kemana-mana, sebab sesiang tadi habis kena tegur pimpinan karena tugas yang diberi kepada saya tidak beres dan berkendala, tapi sore itu, saat pikiran saya sudah kacau karena pekerjaan yang tak kunjung usai, juga badan yang sudah amat kelelahan, saya menyempatkan memeriksa ponsel, lagi-lagi, barangkali ada pesan darimu disana, tapi jika memang tidak ada rasanya ingin sekali saya menulis pesan kepada kamu, mengadu perihal hari itu yang tidak berjalan dengan baik, atau sekedar memberi tahu bahwa hari sudah sore, saya sudah lelah, tapi masih belum bisa pulang. Tapi lagi-lagi pesan apapun tidak saya kirim. Komitmen-komitmen baik kita, mengurungkan segalanya.


Malam hari, setelah merapihkan diri dan menyelasaikan aktivitas lainnya, saya bergegas masuk kamar, bersiap tidur, kemudian akan begitu riang saat mendengar dering notifikasi ponsel, barangkali itu darimu, maka saya harus buru-buru membuka dan membalasnya, namun akhirnya saya menjadi malu sendiri menatap layar ponsel saat menyadari pesan itu hanya dari operator kartu selular atau promo dari salah satu toko online. Mungkin disana kamu berpikir saya disini baik-baik saja, tengah bersantai dengan keluarga atau sedang melepas lelah setelah seharian bekerja, tapi kamu tidak tahu, hari itu saya tidur dengan gelisah bahkan terkadang curiga, sebab seharian penuh kita sempurna tidak saling bertegur sapa, sedang aku ingin tahu, saat itu kamu sedang apa dan bersama siapa? Sudah pulang atau masih bekerja? berapa liter air putih yang kamu habiskan hari ini? Dan banyak pertanyaan lain yang bising di dalam pikir, belum lagi ketika mengingat saat makan malam tadi Ibu bertanya perihal kabar kamu, saya menjawab kamu baik-baik saja, sedangkan sesungguhnya saya sendiri tidak tahu satu hari itu bagaimana keadaan kamu disana.


Aduh, terbayangkah oleh kamu bagaimana berisiknya isi kepala saya?


Tapi saya kembali salah mengira, saya pikir semua tentang kita menjadi gaduh dan berisik di pikiran hanya saat kita tak ada kontak sama sekali, saya kira ini hanya perihal rindu, sayangnya mungkin lebih dari itu. Kita tidak setiap hari tidak berkabar, barangkali hanya satu-dua hari dalam seminggu, tapi ternyata saat tengah bercakap dengan kamupun pikiran saya tetap gaduh.


Kita senang membahasa banyak hal, se-tidak penting apapun, saya jamin itu, sebab apa yang kita bahas tak menjadi soal selama disana kamu meladeni dan saya terus membalas, tapi satu yang pasti, kita masih punya batas, komitmen-komitmen kita menjadi pagar dan penyaring setiap topik, agar tak terlalu bebas, agar tak menjadi ambigu. Kadang saya merasa ini lucu, kita sama-sama tahu, kita sama-sama mau, kita sama-sama merasakan, tapi kita sama-sama bersembunyi dari perasaan dan pikiran-pikiran yang belum seharusnya ada dan diucapkan. Dan ini yang saya sebut gaduh. Ketika dua orang saling tahu, tapi lebih memilih diam membisu, sedang pikirnya berteriak-teriak tak tentu.


Seperti pada suatu malam pada salah satu percakapan kita, dengan sangat mendadak kamu bilang saat itu juga kamu harus segera pulang ke kota asalmu karena orangtuamu sakit, kamu berangkat dan saya hanya bisa mengucap "Hati-hati di jalan, salam untuk Ibu dan Bapak", itu saja. Sedang dalam pikir dan benak saya segala resah berkecamuk, malam itu cuaca sedang tidak jelas, hujan bisa tiba-tiba saja menderas, kamu mengendarai motor, dan kamu baru pulang kerja --overtime, ingin sekali rasanya saya katakan bahwa saya menghawatirkan keadaan kamu, menahan agar esok pagi saja kamu pulang, kalimat "Saya hawatir, saya tidak mau kamu kenapa-napa" hanya bisa saya ketik-hapus pada layar, tidak pernah terkirim. Saya belum boleh katakan itu. Kita sudah berkomitmen. Tuhan akan marah pada kita. Maka biar saya tunggu hingga kamu sampai rumah, dan berharap sebuah pesan dari kamu muncul di ponsel saya, berisi kalimat "saya sudah sampai, dan saya baik-baik saja", meski hingga larut malam.


Demikian.


Siapapun yang tahu perihal kita, saya yakin dia akan tertawa, atau mungkin menatap sinis, di jaman yang secanggih ini, siapa pula yang masih memakai konsep jatuh cinta dengan cara yang lugu? Kita memasuki era dimana perasaan atau pikiran apapun bebas di ungkapkan, bukan lagi massanya jatuh hati dengan pipi merah tersipu, atau saling ragu hanya sekedar bertanya kabar, apalagi alasannya "takut mengganggu", apalah yang mengganggu  jika di jaman ini, benda bernama gadget rasanya tidak pernah bisa jauh dari genggaman? 


Dan jika kamu bertanya pada saya perihal jaman, saya setuju jika kini semua serba canggih, peradaban harus berubah, tapi perihal perasaan? Sejak perasaan-perasaan absurd itu mulai dikenal manusia, menjadi tema yang sering dipakai para penulis roman,  hingga kini barangkali kita bisa melihat perasaan orang hanya dari status facebooknya tadi pagi, bagi saya, hal-hal sakral perihal perasaan-perasaan itu tetaplah sama. Mebuat jantung berdegup tidak seperti biasanya, membuat kata-kata manis yang sudah sekian lama disusun hilang begitu saja, membuat raut yang susah payah terlihat tenang, tetap tampak malu dan gugupnya.


Begitu pula soal kita, saya tidak ingin jatuh cinta dengan biasa saja, saya tidak ingin perihal kita menjadi sama seperti cerita orang kebanyakan, saya ingin merasakan perasaan ini dengan lugu, seperti belum pernah merasakan sebelumnya. Saya ingin jatuh hati dengan sederhana, namun mengena. Biar segala gaduh tetap menjadi gaduh, tidak akan saya rubah meski saya amat mau, tapi saya ingin menanti dengan kisah yang manis, tidak akan saya rusak alurnya meski segaris. 


Setelah semua gundah coba saya urai,  saya harap kamu tahu, soal kita dipikiran saya segaduh apa, belum lagi terhitung perihal seseorang yang saya hormati --yang sedikit banyak sudah kamu tahu, atau soal orang-orang yang tiba-tiba saja datang, semua begitu menyesakkan ruang-ruang di kepala, membuat segalanya semakin gaduh dan saya harus mendiamkannya dengan susah payah. 


Saya sungguh ingin meminta maaf untuk semua kata yang tidak tertulis meski sehuruf, segala tanya yang tidak juga terucap meski sehela, jika sudah membuat kamu salah menduga. Saya harap kamu sekarang paham, saya hanya tidak ingin membuat Tuhan marah pada kita. 


Maka biar segala gaduh di kepala dan hati saya tetap sunyi di telinga penduduk bumi, tapi semoga menjadi perbincangan di atas langit. 





Indramayu, 27 Maret menjelang 28 Maret 2017.



*NBR.

Monday, 27 February 2017

Kepada Tuan

Salam,


Kepada Tuan, di tempat.


Selamat pukul berapapun di tempatmu saat kamu membaca ini, Tuan. Apa kabar? Saya harap kamu sehat, dan tidak kurang suatu apa, sebab ada bagian dari diri saya yang akan terluka jika saya tahu kamu sedang kenapa-napa, sedang saya disini tidak bisa berbuat apa-apa.


Tuan, kamu sedang apa? Saya harap, apapun yang sedang kamu lakukan bukan hal yang dapat menjauhkanmu dari Tuhan, sebab bagaimana mungkin Dia mau setuju pada doa-doa tentang kita jika diantara kita berdua ada yang dinilai tidak bekerja sama dengan baik untuk mendekati-Nya.


Tuan, saya harap surat ini tidak merepotkan waktumu, tidak juga mengganggu kegiatanmu, apalagi memberantakan perasaanmu, sebab saya tahu, disana ada yang sedang kamu usahakan dengan gigih, demi masa depan kita yang tersusun rapih.


Tuan, dengan datangnya surat ini, saya ingin mengabarkan bahwa disini saya sedang dirundung bingung, dan terserang bimbang, saya dilema menentukan mana yang paling saya rindu, senyummu atau teduh tatapmu, sebab keduanya begitu senang berkelebat dalam pikiran, bahkan meski mata sudah saya pejamkan.


Tuan, serangan bingung dan bimbang ini semakin membuat saya gamang, terlebih jika hujan datang, tentang kamu semakin membuat pikiran saya gaduh, hingga harus berkali-kali saya mengaduh. 



Tuan, diharap kamu disana suka rela mendoakan saya, sebab dokter mendiagnosa bahwa serangan wabah bimbang dan rindu ini akan semakin menjadi jika kamu luput mendoakan saya meski sehari. 



Demikian adanya kabar saya disini, Tuan. Semoga kamu tidak keberatan membacanya, sebab saya begitu sungguh-sungguh menuliskannya.

Sebelum semakin tak karuan perasaan ini, baiknya surat ini saya sudahi.



Salam, saya yang merindumu.


Haurgeulis, Siang hari.

Sunday, 22 January 2017

Ja(t)uh

Hari ini adalah hari ke dua puluh dua setelah euforia tahun baru 2017 meletup. Sementara banyak orang perlahan-lahan mulai merealisasi resolusi, saya masih asik men-skroll history chat kita sejak berpekan-pekan lalu, keluar-masuk aplikasi perpesanan demi membuka ulang dialog-dialog kita yang padahal tidak akan berubah meski berkali-kali dibaca.

Sebenarnya saat menulis ini, malam sudah terlalu larut untuk saya yang besok sebelum pukul 7 pagi harus sudah berada ditempat kerja, tapi malam ini, rindu membuat ulah, dia memaksa saya terus terjaga, meminta saya mengurai gelisah lewat aksara.

Sudah saya jelaskan di paragraf pertama bahwa saat ini saya sedang mengenang percakapan-percakapan kita, bukan hanya membaca, tapi hingga mendetail koma dan titiknya. Dari itu harusnya kamu mengerti segala yang kamu tulis bagi saya sepenting apa.

Berulang-ulang saya mencoba memejam mata, tapi berulang kali juga saya men-unlock ponsel yang padahal baru beberapa detik lalu saya lock. Ah, saya tetiba merasa seperti bocah yang penasaran pada satu benda didalam kotak kaca, padahal sudah paham betul isinya, tapi masih juga dibuka tutupnya. Sudah hapal betul segala maksudnya, masih juga pesan-pesan dari kamu berulang saya baca.

Saya harus mengaku, saya menyukai segala yang kamu tulis meski hanya kata "iya" dengan titik dibelakangnya, maka pastilah juga kamu paham apa yang saya rasa saat mata saya sampai pada sebaris pesan yang kamu kirim selepas pamit pulang pada Ibu dan Bapak saya dipertemuan pertama kita.

Mengingat lagi segala yang sudah terjadi sejak malam perkenalan kita kala itu hingga hari ini, membuat darah saya berdesir lembut, jantung saya berdegup gugup, sebab tidak sekalipun pernah saya membayang tentang kita menjadi seserius ini.

Mohon maafkan saya sebab pada awal mula perkenalan kita, saya sempat menyangka kamu seperti lelaki kebanyakan, datang hanya sekedar menebar modus dan harapan, namun semua terpatahkan saat kamu duduk satu sofa dengan Bapak di rumah sederhana saya di tengah desa.

Maaf karena saya sempat suudzon, saya pikir hanya akan ada satu salam diantara kita, ialah hanya saat pertama kamu memperkenalkan diri dan meminta izin berbincang dengan saya, namun lagi-lagi dugaan saya salah, nyatanya salam kedua sudah kamu ucap setelah pintu rumah saya kamu ketuk.

Saya bukan tipe orang yang senang berekspektasi tinggi pada sebuah perkenalan dengan orang yang benar-benar asing, selama bertujuan baik, mari kita saling bertukar tanya. Namun malam itu berbeda, saat seorang teman tiba-tiba meminta izin, katanya, bolehkah dia memberikan nomor ponsel saya pada temannya? Saat saya tanya untuk apa? Dia kata ingin kenal saja. Namun saat itu, saya yang tidak mudah percaya pada orang asing ini tiba-tiba saja mempersilahkan.

Atas nama Tuhan pemilik segala kasih dan sayang di muka bumi, kita mengawali perkenalan ini dengan begitu hati-hati, saya berusaha menjadi tuan rumah yang baik, dan kamu terlihat menjadi tamu yang sopan.

Begitulah, Tuhan menjadi alasan atas segala keputusan yang saya pilih, mempersilahkan kamu masuk dan memperkenalkan diri, hingga hari ini. Semoga Tuhan selalu meridhoi.

Yang saya percaya hingga detik ini, tidak ada satupun kebetulan di muka bumi, semua sudah Allah atur sedemikian rupa, begitu juga dengan perkenalan kita, siapa yang sangka ternyata kita lahir di bulan yang sama dan berjarak hanya tiga hari saja? Siapa pula yang menyangka jika ditanggal dan bulan yang sama dengan hari ini di tahun lalu kita bahkan tidak saling tahu namun kini menjadi saling mau?

Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya sudah mengenal kamu dengan baik, tapi saya bisa memastikan ada bagian dalam diri saya yang sudah terlanjur kamu tarik. Entah pada purnama ke berapa hati saya mulai jatuh, yang jelas, hingga detik ini, bagi saya semua soal kita sudah amat jauh.

Tuan, sejak kita masih sama-sama kaku membalas tanya, hingga kini kita tak malu bicara tentang masa lalu, saya tidak pernah meminta apapun selain meminta kita jangan lupa menempatkan Tuhan diantara kita, kan? Malam ini izinkan saya meminta satu hal lagi, satu saja tak perlu banyak-banyak, dan semoga tidak begitu pelik untuk kamu berikan.

Sebelumnya saya berterimakasih sebab kamu sudah memberikan saya satu kepastian, namun kini saya meminta, tolong jangan biarkan saya menanti tanpa tahu hingga kapan, jangan pula terlalu lama membiarkan saya menggantung harapan, sebab pikir saya semakin hari semakin gaduh, sejak saya mulai jatuh, hingga kini ternyata jatuh saya begitu jauh.


Haurgeulis, 22 Januari 2017.